MotoGP : Podiumnya Dua Ducati, Membawa Konsekwensi Regulasi, Apa Itu ?

Assalamu’alaikum dan salam sejahtera..

Masbro/mbaksis… ternyata di balik cerita unik (melorot) dan mengharukan (cedera yang menghantui), race perdana di Losail, Qatar, kali ini juga menyisakan sebuah konsekuensi dalam hal regulasi pada tim Ducati. Yaitu karena mereka mampu menempatkan dua pembalapnya di podium.

Sebagaimana masbro ketahui, saat ini MotoGP terbagi menjadi 3 kelas. Kelas pertama adalah Factory, kelas kedua adalah Factory 2 atau Factory dengan konsesi, dan kelas Open. Ada perbedaan yang cukup signifikan di antar kelas-kelas tersebut. Untuk lebih jelasnya mungkin kita simak kembali jenis-jenis kelas ini dengan kriterianya.

Factory

Untuk kelas Factory,

  • ECU yang digunakan untuk hardware ditentukan oleh Official MotoGP, sedangkan softwarenya ditentukan sendiri alias di desain oleh pabrikan.
  • Kapasitas bensin 20 liter untuk tiap race
  • Penggantian mesin 5 kali selama satu musim dengan mesin yang identik
  • Tidak ada pengembangan selama satu musim penuh

Open

  • ECU yang digunakan sepenuhnya oleh Official MotoGP, baik hardware maupun software
  • Kapasitas bensin maksimum 24 liter untuk tiap race
  • Penggantian mesin hingga 12 kali sepanjang musim
  • Selama satu musim diberi kesempatan pengembangan, dan diberi peluang yang jauh lebih banyak untuk pengetesan dibanding Factory
  • Boleh menggunakan ban belakang compound soft

Factory Dengan Konsensi

  • ECU yang digunakan sama seperti Factory, yaitu Hardware oleh Official MotoGP, dan software oleh pabrikan
  • Kapasitas bensin maksimum 24 liter setiap race
  • Penggantian mesin hingga 12 kali sepanjang musim
  • Sepanjang satu musim berlangsung boleh melakukan pengembangan dan diberi peluang lebih banyak untuk pengetesan
  • Compound band yang soft untuk belakang

Kelas Factory 2 atau dengan konsesi ini sebetulnya bisa disebut kelas ketiga. Tetapi keberadaan kelas ini ada dengan semangat agar race bisa lebih kompetitif dan menarik. Artinya yang jadi juara tidak itu-itu saja pabrikannya, yaitu sebagai penjembatan, terutama bagi pabrikan-pabrikan yang baru masuk, agar mampu bersaing dengan pemain lama. Dalam hal ini Suzuki dan Aprillia. Sedangkan Ducati bisa masuk karena Ducati tidak atau belum memenuhi kriteria untuk masuk di kelas Factory. Kriterianya adalah Tim harus pernah memenangkan podium kedua dua kali, atau total podium dengan dry condition sebanyak 3 kali, terhitung sejak musim 2014.

Regulasi yang rada njelimet ini mungkin (opini penulis) untuk mengurangi kesan kemenangan yang diraih karena kebetulan. Sebaliknya dengan syarat ini juga untuk mencegah pabrikan absen 1 musim, terus masuk lagi sebagai tim baru, sehingga masuk kriteria yang kesempatannya sama dengan Open Class. Jadi misalkan pabrikan keluar karena suatu hal, mungkin financial, terus musim depan lagi masuk, jadi kriteria Open (jika tidak ada Factory 2), pengembangan terus menerus, maka bisa jadi tim pabrikan ini akan juara. Untuk itu jika tim pabrikan sudah memenangkan 2 kali podium kedua, atau 3 kali podium, maka keringanan-keringanan yang diberikan sebagaimana open class akan dikurangi sebagian. Ibaratnya.. udah mampu podium kok masih minta keringanan.. Hehehe..

Nah.. dengan kemenangan dua podium (kedua dan ketiga) dua pembalap Ducati minggu lalu memberikan konsekuensi keringanan-keringanan yang diberikan kepada tim Ducati dikurangi langsung, karena sudah 3 kali podium, termasuk podium ketiga Dovizioso di Austin musim kemaren (2014). Dan pemberlakuannya ada pada kapasitas maksimum bahan bakar yang dibolehkan, yaitu dari 24 liter dikurangi hingga 22 liter.

Regulasi ini juga berdampak pada Tim Ducati yang lain, yaitu dari Tim Pramac Racing, Danilo Petrucci dan Yonny Hernandez. Sedangkan yang open Class dari Ducati, yaitu Avintia Racing, yaitu Hector Barbera dan Mike DiMeglio tidak terkena dampak karena memang Open Class.

Pertanyaannya, apakah ngefek bagi tim Ducati ? Ternyata tidak juga masbro, karena tim Ducati sendiri mengakui, dalam 1 race full mereka bilang tidak butuh hingga 22 liter bahan bakar. Kalau 20 liter seperti Factory ? Tidak disebutkan untuk 20 liter. Yang jelas tidak berpengaruh bagi mereka pembatasan hingga 22 liter.

Namun jika ternyata Ducati mampu kembali menempatkan pembalapnya 3 kali podium dalam kondisi dry, maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk menggunakan soft compound pada ban belakang. Sedangkan keringanan regulasi yang lain (seperti pengembangan, jumlah mesin cadangan, dan testing) tetap mereka dapatkan hingga akhir musim.

Sing penting seru lah.. ndak mbosein.. ya toh masbro/mbaksis…

Semoga bermanfaat.

Wassalam

*) jika ada kritik, saran maupun masukan, silahkan hubungi penulis di nice_guy2208@yahoo.com

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in Otomotif, Roda Dua and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to MotoGP : Podiumnya Dua Ducati, Membawa Konsekwensi Regulasi, Apa Itu ?

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s