Menyalakan Lampu Motor Di Siang Hari Berdampak Global Warming ??

Sungguh bagus apa yang ditulis di blog mas bro Igfar tentang menyalakan lampu (motor) siang hari disini. Tulisan yang analitik, argumentatif, dan sangat jelas argumentasinya. Penulis rasa apa yang ditulis masbro igfar sudah sangat cukup untuk menjelaskan perlunya menyalakan lampu bagi motor di siang hari. Hanya perlu sedikit penulis tambahkan, karena penulis juga menjumpai kekhawatiran tentang dampak menyalakan lampu motor disiang hari terhadap Global Warming. Baik itu dalam komentar, maupun dalam tulisan/artikel (tapi penulis lupa tulisan dimana). Dan penulis rasa hal ini perlu sedikit dibahas.

Sebelum kita mengaitkan permasalahan lampu disiang hari dengan Global Warming, ada baiknya kita perlu mengetahui sedikit banyak tentang apa itu Global Warming, dan tentu saja Efek Rumah Kaca, karena berbicara Global Warming pasti berbicara Efek Rumah Kaca, begitu juga sebaliknya.

Selain panas bumi (asli dari bumi), bumi juga mendapatkan panas dari sinar matahari melalui proses radiasi. Radiasi ini dalam bentuk sinar ultraviolet yang sangat panas. Sebagian besar panas dari matahari dipantulkan kembali keluar angkasa berkat jasa keberadaan Ozon dengan rumus kimianya O3. Dari panas “hibah” matahari ini sebagian diserap oleh lapisan bumi, dan sebagian dipantulkan kembali ke angkasa.

Idealnya seluruh panas yang dipantulkan oleh bumi (tentunya setelah sebagian diserap), dan sebagian yang dihasilkan oleh aktifitas dibumi, secara bebas dipantulkan ke luar angkasa. Tetapi ternyata dilapisan tertentu atmosfir, pada saat ini makin banyak gas yang menghalangi keluarnya panas ini dari atmosfir bumi. Sehingga panas yang harusnya keluar ke angkasa, dipantulkan kembali ke lingkungan bumi. Hal ini berlangsung terus menerus sehingga panas yang terperangkap di atmosfir menjadikan suhu bumi naik secara drastis dan signifan. Inilah yang dimaksud dengan istilah Efek Rumah Kaca (dalam istilah Inggrisnya bukan Glass House, tetapi Green House, Glass House punya pengertian yang lain).

Seolah-olah kita berada dalam sebuah rumah kaca, tanpa sirkulasi udara (pembuang panas), matahari menyinari rumah kita, suhu dalam rumah makin panas, tapi panasnya tidak bisa keluar dari rumah.

Ilustrasi Efek Rumah Kaca dalam Global Warming (sumber : wikipedia)

Gas yang paling “bertanggung jawab” terhadap hal ini adalah CO2, disamping gas-gas yang lain seperti Chloro Fluoro Carbon (CFC), SO2, NO, NO2. Pertanyaannya kenapa CO2 bisa banyak di atmosfir, seharusnya tidak banyak ? Jawabnya karena tidak banyaknya tanaman yang seharusnya menyerap CO2 di udara untuk proses fotosintesis. Tentu saja penggundulan hutan penyebab utamanya.

Jika ada yang kritis bertanya, O3 kan memantulkan panas dari matahari, apa tidak memantulkan juga panas dari bumi yang seharusnya dilepas keluar bumi ? Tidak bro, panasnya sama, tapi berbeda gelombangnya. O3 aka Ozon memantulkan panas dari matahari atau bintang lainnya yang berbentuk gelombang ultra violet atau yang lebih tinggi, bukan gelombang pendek (infra) yang dikeluarkan/dipantulkan oleh bumi. Sedangkan kebalikannya CO2 dan kawan-kawan memantulkan (tidak melewatkan) gelombang panas berupa infra merah. Maha Besar Allah telah menciptakan bumi dan isinya ini dengan takaran yang tepat, hanya manusialah yang merusaknya sendiri.

Jadi dua hal yang harus kita jaga atau lakukan, pertama keberadaan Ozon (O3), kedua pengurangan gas-gas CO2 dkk di atmosfir.

Menjaga O3 aka Ozon berarti mencegah perusakan Ozon. Apa yang merusaknya ? Yang paling cepat merusak ozon adalah CO aka Karbonmonoksida. Reaksi yang sangat cepat menjadi O2 dan CO2. O2 akan turun ke bumi (karena lebih berat), dan CO2 bertengger di atas menghiasi atmosfir dan menahan panas dari bumi keluar. Dan jika konsentrasi CO masih banyak, O2 yang dihasilkan dari penghancuran O3 oleh CO sebelumnya, akan dihancurkan lagi menjadi CO2 yang lain. Ikatan O2 lebih lemah dibanding dayatarik CO untuk menarik O menjadi CO2 baru. Makanya gas ini sangat beracun bagi manusia, karena menyerap O2 dari darah manusia. Tentu kita banyak mendengar berita kematian mendadak karena kebocoran asap kenalpot yang masuk ke ruang penumpang kendaraan.

Kenapa bisa banyak CO yang terlepas ke atmosfir ? Jawabnya karena dari aktifitas gunung berapi dan banyak proses pembakaran yang tidak sempurna, dari asap pabrik, dan… asap kendaraan bermotor dari mesin kendaraan yang tidak sehat. Sudah banyak kasus kematian mendadak di dalam mobil akibat keracunan CO yang bocor.

Nah..jika anda khawatir dengan pemanasan global karena menyalakan lampu (motor) di siang hari, sebaiknya matikan saja mesin motor, pakai sepeda atau jalan kaki, karena langkah itu lebih relevan daripada keengganan menyalakan lampu yang sebenarnya tidak ada dampak langsungnya.

Dari uraian penulis diatas, masihkah kita membela mati-matian para pelaku industri otomotif yang jor-joran menjual produknya, sampai-sampai seolah-olah seluruh anggota keluarga dari bapak, ibu, kakak adik, harus memiliki motor/mobil satu-satu untuk aktifitas kesehariannya sehingga polutan makin banyak, sementara untuk menyalakan lampu motor untuk keselamatan kita sendiri saja enggan dengan alasan global warming ??

Dan satu lagi, aturan menyalakan lampu motor siang hari itu bukan keputusan sehari dua hari. Itu berdasarkan penelitian. Dan penelitiannya pun bukan seperti kebanyakan di kita. Penelitian tinggal penelitian. Tetapi dilakukan evaluasi terhadap penerapan aturan selang beberapa waktu. Makanya akhirnya banyak diadopsi oleh negara-negara Eropa lainnya. Tinggal mengadopsi aja kok. Padahal di negara asalnya motor tidak banyak. Gimana kalau di negara kita yang banyak motornya ?? Seharusnya kita yang melakukan penelitian lebih dulu. Ya tohh..

Dan lagi, kita tahu, negara-negara maju sangat konsen dengan global warming, sehingga jika ada unsur pemanasan global dalam masalah ini, sudah pasti masuk dalam pertimbangan. Walaupun dalam beberapa hal penulis tidak setuju sikap negara maju terhadap negara berkembang dalam masalah global warming. Tapi untuk konsen ke global warming dalam segala bidang, kita akui mereka kosisten.

Akhir kata, semoga apa yang penulis obrolin disini memberi manfaat bagi kita semua. Dan mohon maaf jika ada salah kata, dan juga mohon koreksi jika ada yang salah dari uraian di atas.

Salam

Jika ada saran, kritik atau masukan, bisa menghubungi penulis di email atau YM : nice_guy2208@yahoo.com

Sumber bacaan :

1. Wikipedia : Efek rumah kaca

2. Wikipedia : Green House Effect

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in lalu lintas, Otomotif, Roda Dua, Transportasi and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

29 Responses to Menyalakan Lampu Motor Di Siang Hari Berdampak Global Warming ??

  1. Maskur says:

    berarti pemberitaan motor apalagi yang baru itu mendukung global warming ya?

    • boerhunt says:

      Tidak serta merta seperti iu masbro, selama tetap mengedepankan sikap kritis kita sebagai konsumen, anggota masyarakat yg peduli lingkungan, dan berimbang, saya rasa fine2 aja masbro

  2. gydor says:

    apapun alasanya di uraikan sampai 1000 halamanpun tetep gak setuju AHO… soale nang desoku motor cuma buat ke sawah tambak kebon gunung, kalau di DKI wajib aho sih emang wajarlah dan sangat bermanfaat tapi di daerah…?? Gak hemat energi bro.

    • boerhunt says:

      Kudu dibedakan masbro antara menyalakan lampu (secara manual) dengan otmotisasinya (aho), saya sendiri belum bisa memilih dan memiliki referensi setuju AHO atau tidak, krn kalo di negara luar penerapan aho tidak ada kekhawatiran budaya ewuh pakewuh spt di kita jika menyorotkan lampu ke org lain ketika masuk gang atau hal-hal lainnya..

  3. ryo says:

    yang bagus tetap ada saklarnya… kan Indo beda habit sama luar negri…😀

    • boerhunt says:

      Saya cenderung setuju dengan yg pake saklar, dgn itu melatih kita peduli, peduli dgn keselamatan diri dan orang lain dgn menyalakannya di jalan, sekaligus peduli thd org lain dgn sopan mematikan lampu jauh ketika masuk di gang orang lain, walopun bisa default lampunya idup, tp bisa atau ada saklar utk matikan

  4. hanx says:

    yg merusak ozon bukannya CFC ya mas…?
    kalo CO dan CO2 memang merupakan gas rumah kaca, tapi ada yg lebih hebat lagi metana, beberapa kali lebih kuat dari CO2 dlm menghalangi panas keluar atmosfir

    • boerhunt says:

      Bener masbro, CFC jg bertanggung jawab, tetapi CFC bersifat perlahan dan tahunan utk sampai ke lapisan stratosfir dimana tempat ozone yg bermanfaat dirusak, sedangkan CO walau sifat penghancurnya lebih berantai, reaksinya lebih cepat sesuai sifat CO sendiri, jd saya cenderung lebih menyalahkan CO yg berlebihan di atmosfer.. CMIIW

  5. cafebiker says:

    yang peduli masih sedikit, makanya dipaksain AHO:mrgreen:

    • boerhunt says:

      Itu dia knp saya bilang masih cenderung, bukan mutlak memilih non AHO, ada byk pertimbangan, dan juga semua pertimbangan2 itu blm ada penelitian langsung, “seberapa besar kemungkinan lampu menyala masuk gang bisa bikin keributan?”😀 Krn itu yg jadi salahsatu alasan menolak AHO

  6. Hourex150L says:

    menyalakan lampu di siang hari setujuh tapi kalo AHO tetep gak setujuh,, AHO = Pembodohan Otomaotif.. Lebih jelasnya pendapat saya di sini: http://www.hourex150l.wordpress.com/2011/07/29/1040/
    #abaikan saja#

  7. setia1heri says:

    wow….ane binun…
    aturan suruh nyalakan lampu tapi katanya gombal warning😛

  8. Pak Bambang Nunggang Byson says:

    suwun infone

  9. devil says:

    bro… apa memang ada hubungannya dengan menyalakan lampu motor dengan pemanasan global.. klo emisi kendaraan bermotor termasuk sepeda motor memang akan meningkatkan konsentrasi gas gas yang menyumbang efek rumah kaca (CO,NOx,NHx dsb). tetapi menurut pendapatku menyalakan lampu tidak berpengaruh terhadap peningkatan konsentrasi gas tsb. karena lampu dihasilkan dari arus listrik, bukan hasil pembakaran. Klo memang ingin menurunkan efek rumah kaca ya jumlah kendaraan bermotornya yang dikurangi, bukan AHO nya yang dihilangkan…

    • boerhunt says:

      Setuju masbro, justru tulisan ini dimaksudkan utk meluruskan, bhw sebenarnya tidak ada hubungan lgs menyalakan lampu motor di siang hari dgn global warming, jd tidak usah khawatir, hal lain lah yg perlu mendapat perhatian utk urusan global warming

  10. uDien d'kab says:

    ikut menyimak mas ….

  11. ttep lebih setuju sama DRL, tapi gak setuju AHO……..

    DRL=menyalakan lampu utama
    AHO=switch on/off ditiadakan

    lebih banyak keuntungannya menyalakan lampu utama daripada mudaratnya, hanya opini saja om:mrgreen:

  12. wow!! nice article mas…. ini dia yang kemaren agak sulit saya cari materinya krn keterbatasan waktu.. hehehehe! mantab lah! argumentasinya jelas dan langsung menuju sasaran.. jadi ga ada orang yang teriak global warming musiman

    • boerhunt says:

      Sekedar nambahin tulisan masbro, anyway ya nurut sy wajar sih, ketika belum paham akan sesuatu akan menjadi opini yg keliru, sdh sewajarnya bagi yg sdh paham duluan memberi pencerahan, bukan membiarkan opini yg salah terus berkembang

  13. azizyhoree says:

    apik mas, perlu dikaji aturan yang “men safety kan ” namun tidak boros daya & ramah lingkungan🙂

    • boerhunt says:

      Maunya gitu bro, cuman utk itu pasti butuh sumberdaya, ngumpulin data dsbnya, sebetulnya bisa lah jadi bahan utk skripsi ttg lingkungan misalnya, sayang ane orang teknik🙂

  14. betul sekali mas bro, dengan konsep “turn on the light to be seen” maka berlaku di mana pun, di kota maupun di desa orang lain akan aware dengan keberadaan kita dan akan lebih berhati-hati untuk bermanuver, insyaallah manfaat

    • boerhunt says:

      Bagi yang juga sering berkendara dengan mobil, pasti bisa merasakan pentingnya utk tahu kondisi dibelakang kendaraan kita, dan utk mobil blank spotnya lebih lebar, shg lampu motor yg ada dibelakang mobil bermanfaat sekali

  15. yurizalku says:

    setuju mas, argumen yg cerdas.

    walau aku dah pernah kena tilang krn lupa nyalakan lampu.

    monggo mampiiir
    http://yurizalku.wordpress.com/2012/05/12/tentang-tumor-dan-kanker-part-3-sembuhkan-dengan-habbatusaudah-dan-sarang-semut/

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s