Proton Diberi Insentif, Lhoo… Trus Mobil ESEMKA Dulu Gimana Donk ??

Assalamu’alaikum dan salam sejahtera masbro/mbaksis..

Sungguh ini berita yang kurang mengenakkan bagi penulis, mungkin juga bagi pemerhati otomotif tanah air.

Dilansir di banyak media, dikabarkan Presiden melawat ke Malaysia berkunjung ke pabrik mobil produk Malaysia, yaitu Proton. Dalam kesempatan tersebut sepakati sebuah MoU untuk membuat mobil bersama, yang tentu saja nanti akan diproduksi di Indonesia. Hmmm..

s

MoU antara Pemerintah Indonesia dan Petinggi Proton

MoU antara Pemerintah Indonesia dan Petinggi Proton

Sontak penulis teringat dengan mobil yang dulu pernah dibela mati-matian, yaitu mobil ESEMKA.

Pertanyaan penulis :

Bagaimana kelanjutan mobil ESEMKA ?? Terus buat apa dulu terang-terangan menentang aturan, yang seharusnya mobil tidak boleh digunakan di jalan sebelum ada uji kelaikan, dikemudikan dari Solo menuju Jakarta. Giliran sekarang sudah bisa bikin regulasi, kenapa tidak bikin regulasi yang menguntungkan karya anak bangsa yang mandiri, malah menggaet pabrikan luar. Banyak anak bangsa yang pinter yang sedang berkecimpung di pabrikan (merk luar) yang beroperasi di dalam negeri. Jikapun katakanlah Mobil ESEMKA belum laik, ya bikin donk bantuan insentif, regulasi atau apalah agar mereka terbantu. Bukannya menggaet lagi pabrikan luar (baca Proton) jadi mobil dalam negeri dengan diberi insentif dan kemudahan, karena kalau itu yang dilakukan, gak ada bedanya dengan konsep mobil Timor dahulu yang menggaet KIA (? cmiiw) hanya dengan embel-embel mobil ASEAN. Beda label aja.

Dan bagaimana kabar kebijakan mobil LCGC yang dulu juga diprotes ? Masih jalan terus ?

Dan pertanyaan paling pentingnya :

Benar-benar serius gak sih pemerintah konsen untuk memajukan otomotif nasional ??

Semoga bermanfaat.

Wassalam

*) jika ada kritik, saran, atau masukan silahkan hubungi penulis di nice_guy2208@yahoo.com

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in mobil, Otomotif and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Proton Diberi Insentif, Lhoo… Trus Mobil ESEMKA Dulu Gimana Donk ??

  1. mariodevan says:

    dari yang aku baca di koran jawapos tdi pagi… ini murni bisnis ke bisnis.. jadi gak ada intensif om

    http://mariodevan.com/2015/02/09/honda-pcx-lokal-tidak-akan-bisa-hadir-di-tahun-ini/

    • boerhunt says:

      insentifnya beneran emang belum, masih wacana, dan itu masih dalam pembicaraan Mahathir bhw proton akan meminta insentif (entah berupa apa) utk kerja sama itu, tetapi di pihak lain juga pemerintah gk bilang “TIDAK” utk insentif, jd kalo bilang tidak ada insentif juga gk tepat.. TAPI..kalo kita diam2 saja alias gk protes, bisa jadi insentif itu akan muncul diam2.. you know what i meant largh..😀

    • boerhunt says:

      di Ast** itu gk keitung berapa pakar yg asli indonesia, mrk dah pakar2 urusan otomotif dan tetek bengeknya, dr mulai level d3 sampe S2 ada, itu aja di kumpulin, ditarik ke perusahaan otomotif asli dalam negeri, pemerintah sbg regulator buat regulasi yang menguntungkan produk dlm negeri.. lah dulu berani nabrak regulasi/aturan bawa mobil blom sertifikasi, skrg kok malah ambil langkah mundur.. alasan kita kekurangan tenaga ahli hingga harus transfer teknologi jelas salah besar, yg bikin mobil listrik org asli indonesia (Ricky Elson) pencipta Gendis dan Selo (mobil listrik) punya byk paten di luar negeri..mobil udah kelar, sertifikasi gk muncul2.. makanya kembali kita pertanyakan keseriusan pemerintah

  2. netral says:

    Maaf, mungkin pendapat saya agak berseberangan dengan mobnas. Menurut saya, mobil Esemka tidak bisa dibilang 100% “mobnas”, karena mobil esemka cuma mengambil mobil tiongkok dengan merk foday (http://fodayauto.gmc.globalmarket.com/) dan cuma dirakit di Indonesia. Justru yg pantas mendapat gelar mobnas adalah mobil Maleo, karena murni didesain oleh pak b.j. habibie, meskipun tidak terlalu didengar di publik. Selain itu kalau tujuannya cuma untuk kerjasama menurut saya sih tidak masalah. Karena dengan adanya kerjasama itu untuk mempercepat alih teknologi, drpd membuat sendiri tanpa ada bimbingan, membuang waktu dan biaya yg lebih besar dan resiko gagal yg besar pula. Lihat saja hyundai / kia yg dulu dengan mazda, sekarang kia juga mampu mempengaruhi pasar otomotif global. Atau dulu proton dengan mitsubishi, yg sekarang proton sudah memiliki lotus untuk handling dan enginenya, yah walaupun proton kurang bisa bersaing karena faktor brand dan asalnya yg dr asia tenggara yg menyebabkannya kurang bisa bersaing.

    • boerhunt says:

      Brarti ada dispute disini gan, sy pribadi memang tdk menganggap mobil ESEMKA itu mobnas, dan sy rasa byk yg sadar dan tahu hal itu, itu pertama, kemudian mengenai mobil rakitan dr pabrikan lain, apa iya semua mobil yg bermerk besar sekalipun semua part nya dibikin sendiri ? spt toyota honda suzuki dan lain2 semua part nya dibikin sendiri ? Nope, ada perusahaan yg specialis bikin part2 berbahan besi atau metal, ada yg specialis produksi berbahan plastik or carbon, atau wiring, termasuk utk part2 mobil, jd perusahaan besar sekalipun tdk ada yg membuat seluruh partnya bikin sendiri, kasarnya semuanya jg rakitan, yg kemudian mjd satu unit utuh sebuah mobil dgn brand tertentu, terutama menyangkut mass produk, lain cerita kalo mobil2 eksklusif yg supermahal nan supermewah yg byk bagian dikerjakan secara handmade, ..namun disisi lain mobil ESEMKA justru dijadikan promo seolah2 (wkt itu) mobil MURNI karya anak bangsa, ada yg bersikap seolah spt itu, berarti ada yg tertipu kalo gitu ya… hehehe… dan satulagi mengenai keahlian, apa masbro lupa, siapa yg bekerja dibagian tenaga ahli di pabrikan2 besar macam Hond*, Suzuk*, Toy**a yg tergabung dlm group Ast** dan Indomob** ? Kan orang2 kita jg lulusan perguruan tinggi negeri dan swasta termasuk lulusan luar negeri, msh kurang pengalaman apa, hanya butuh entrepeneur dan political will dr pemerintah utk membangun itu, tp enterpeneur modal besar yg tdk hanya sekedar pengen untung jalan pintas ngambil pabrikan jadi macam proton tanpa melihat potensi bgs sendiri.. setahuku dahulu awal orde baru pemerintah lebih cenderung membangun industri strategis macam angkutan massal spt kereta api dgn INKA, pesawat dgn Nurtanio (pt DI), dan menyerahkan yg non strategis di bidang otomotif ke swasta, agar swasta dlm negeri bisa mengambil alih teknologi dan keahlian dr pabrikan2 luar yg diajak kerja sama, tetapi alih2 bukannya mengambil alih atau menyerap teknologi dr pabrikan Jepang, malah melanggengkan cengkeraman Jepang ke negeri ini, swasta gk mau repot dgn membangun industri sendiri dr hasil penyerapan teknologi..
      wah… jd panjang jg komentar ane.. sbg tambahan, komentar ane di komentar mariodevan di atas

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s