Mencermati Tragedi KRL Bintaro : Kondisi Perlintasan Yang Paling Berbahaya

Assalamu’alaikum dan salam sejahtera masbro/mbaksist.

Masih dalam suasana duka (walau sudah agak lama kejadiannya), penulis ingin berbagi pendapat, terutama tentang palang pintu perlintasan kereta api.

Kecelakan maut KRL di Bintaro (sumber : merdeka.com)

Kecelakan maut KRL di Bintaro (sumber : merdeka.com)

Sudah kita ketahui bersama, tidak semua perlintasan kereta memiliki palang pintu yang memadai. Di Jawa saja titik perlintasan tercatat oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI) ada lebih dari 6000 titik. Tentu saja tidak semua dikelola dengan mencukupi oleh KAI. Ada banyak kendala untuk mengendalikan atau mengoperasikan sekian banyak titik perlintasan. Yang paling utama adalah masalah sumber daya, baik finansial maupun sumber daya manusia atau tenaga. Di samping itu juga cukup beralasan bahwa, banyaknya perlintasan juga karena banyaknya pembukaan jalan-jalan baru, terutama jalan kecil yang dibuka akibat adanya pembangunan kompleks rumah baru. Ini jelas diluar kendali pihak KAI.

Menurut pengamatan penulis, KAI tidak begitu saja lepas tangan melihat kondisi banyak perlintasan yang ada. Salah satu usahanya adalah dengan membuat jalur yang jalan yang melintasi jalur kereta api dibikin zigzag,  atau memberi tanda-tanda berupa rambu kereta api. Ada 2 jenis berbeda untuk rambu-rambu persilangan kereta api, pertama rambu-rambu peringatan untuk perlintasan berpalang pintu, yang kedua peringatan persilangan tanpa palang pintu.

Bukan bermaksud membanding-bandingkan, tetapi faktanya di negara maju yang standar keamanannya tinggi pun tidak semua perlintasan dipasang palang pintu baik manual maupun otomatis. Sebagian persilangan hanya diberi tanda peringatan yang jelas terbaca baik siang maupun malam dengan sinar lampu kendaraan.

Oke, kita lanjut. Menurut penulis, kondisi yang paling berbahaya bukan yang tanpa palang pintu. Justru yang paling berbahaya adalah perlintasan dengan palang pintu yang mengalami error atau tidak berfungsi. Secara psikologis ini justru yang paling berbahaya. Kenapa ?

Karena orang-orang yang sudah terbiasa melewati jalur tersebut sudah menggantungkan isyarat pada palang pintu. Sangat bisa jadi ketika palang pintu tidak berfungsi, mereka akan menganggap tidak ada kereta yang akan lewat, padahal justru sedang ada kereta yang akan lewat hanya saja palang sedang tidak berfungsi. Kondisi ini akan sangat berbahaya sekali, terutama di jalur perlintasan yang sering ramai. Dan bukan hanya untuk orang-orang yang terbiasa lewat, tetapi orang yang baru melintas di jalur itu akan menggantungkan isyarat pada keberadaan palang pintu.

Nah.. ini yang menurut penulis harus menjadi perhatian paling utama bagi KAI. Ketika masyarakat sudah terbiasa “menggantungkan nasib” pada palang pintu, harus diantisipasi secepatnya ketika palang pintu atau signal mengalami masalah.

Sebagai pengguna jalan, kita jangan terlalu berharap bahwa pengelola rel dan kereta api langsung membenahi seluruh perlintasan yang ada. Yang kita inginkan selamat kan ? Bukan sekedar menentukan siapa yang salah, karena kalau sudah jatuh korban atau kejadian, sudah tidak ada bedanya siapa yang salah. Walaupun yang salah dihukum berat, sudah tidak bisa mengganti nyawa kerabat, saudara, atau teman kita yang jadi korban. Jadi, ke depannya, sudah wajib kita lebih waspada dalam menyikapi kondisi ini. Di antaranya dengan memperhatikan hal-hal berikut :

  • berhati-hatilah jika melewati perlintasan, sepanjang yang penulis tahu, seluruh perlintasan yang liar maupun yang dikelola oleh KAI, selalu ada tanda bahwa akan melewati perlintasan kereta api, jadi waspadalah, kurangi laju kendaraan kita, awas penglihatan dan pendengaran. Jika kita sedang memasang earphone di telinga,  atau segera lepas, atau minimalkan volume sound system mobil kita, dengarkan jika ada suara bel kereta. Jika malam, awasi sinar terang lampu kereta. Baru jika memang sudah bisa kita pastikan aman, kita lanjutkan perjalanan
  • jika pun menjumpai perlintasan yang ada palang pintunya, tetap waspada, seperti yang penulis khawatirkan, bisa jadi palang pintu sedang tidak berfungsi.
  • jika menjumpai perlintasan yang padat atau ramai, atau bahkan macet, perhitungkan apakah kita  mampu melewatinya sebelum ada kereta atau signal kereta berbunyi, terutama di jalur yang kereta sering lewat

Sekali lagi, nasehat ini termasuk kepada diri penulis sendiri, urusan nyawa prioritas utama, bukan lagi mencari siapa yang salah.

Semoga bermanfaat.

Wassalam

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in lalu lintas, Transportasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Mencermati Tragedi KRL Bintaro : Kondisi Perlintasan Yang Paling Berbahaya

  1. Aa Ikhwan says:

    msh banyak yg clingak clinguk tancap gas dicelah2 palang KA

  2. orong-orong says:

    sudah tradisi di indonesia, setelah kejadian baru saling menyalahkan
    http://sarikurnia980.wordpress.com/2013/12/24/ini-baru-tantang-nyali/

  3. Sementara itu salah seorang saksi di lokasi kejadian menuturkan kecelakaan KRL Serpong yang menabrak truk tangki di perlintasan Pondok Betung, Pondok Ranji, diduga karena palang pintu terlambat ditutup. Truk pun melintas dalam kecepatan tinggi.

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s