Kenapa Produk Indonesia (Hampir) Selalu Kalah Bersaing Di Luar Negeri, Tetapi Lain Cerita Jika Penjualannya Melalui Mereka (Bagian 1)

Assalamu’alaikum..

Kali ini penulis tidak secara khusus membahas tentang otomotif, roda dua atau motor. Tetapi bahasan yang lebih umum, yaitu dengan daya jual produk Nasional kita di luar negeri. Tentu agak jauh yah secara jangkauan untuk industri otomotif/roda dua nasional kita, lah wong di negeri sendiri saja tak berkutik klepek-klepek. Tapi gak apa-apa, ini sekedar wacana jika kita sudah mampu membangun industri otomotif sendiri.

Oke…kita lanjutkan..

Selama 3 hari terakhir ini penulis sedang mengikuti training/course, sebagai persiapan untuk melakukan penjajagan bisnis di negeri orang. Materinya sangat padat. Tetapi disini penulis ingin berbagi yang rasanya cukup bermanfaat bagi pembaca yang mungkin perlu mendapatkannya.

Hari pertama diisi tentang English, karena akan jadi bahasa pengantar utama. Bukan English tekstual, tetapi native. Biasa saja. Skip saja.

Hari kedua yang jauh lebih menarik. Dengan pengajar yang sama, diajarkan pula Business Culture. Yang diajarkan adalah bagaimana karakteristik yang spesifik dari masing-masing bangsa dalam hal berbisnis, terutama yang punya kebiasaan unik seperti bangsa Jepang. Di sin dijelaskan secara detil tentang kebiasaan-kebiasaan mereka (bangsa lain) dalam hal melakukan kontak bisnis dengan pihak lain, termasuk Do & Dont, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan selama berintaksi dengan mereka. Detil !!! Karena hal-hal tersebut sangat berpengaruh terhadap keputusan bisnis mereka terhadap kita jika akan menjalin kerja sama.

Setelah makan siang dilanjutkan oleh pembicara lain, dengan bahasan yang berbeda. Nah disini menariknya, termasuk jika dihubungkan dengan bahasan sebelumnya.

Pembicara kali ini adalah DR. Sutanto dari UNS. Beliau menceritakan, ada banyak hal yang sangat berbeda budaya diluar dibandingkan dengan kebiasaan kita. Satu contoh di negara luar terutama Eropa, angkutan umum seperti bus tidak perlu kondektur, karena tiap individu masyarakatnya sudah mengerti dan paham sekali bahwa untuk naik bus itu perlu tiket, tiketnya dimasukkan ke mesin penerima tiket yang disediakan di dalam bus. Jika ini diterapkan secara langsung di Indonesia ? Gak bakal jalan, pasti banyak orang-orang yang ngakali gimana caranya tiketnya bisa dipakai lagi.πŸ˜€.

Dengan contoh itu, beliau ingin memberi pesan, bahwa sebagian orang Indonesia ingin menerapkan apa-apa yang mereka anggap baik dari luar, ternyata sama sekali gak jalan jika diterapkan di negeri ini. Artinya, harus dipahami culture-nya.Β  Dan ada banyak hal atau contoh yang seperti itu. Disadari atau tidak, di negeri kita banyak hal yang tidak pasti. Apa-apa yang nampak baik di negeri orang yang nota bene sudah maju, jadi mentok malah acak kadul kalau begitu saja diterapkan di negeri kita.

Dari uraian beliau menerbitkan tanda tanya besar dibenak penulis, berkaitan dengan bahasan oleh pembicara sebelumnya yang menjelaskan kebiasaan-kebiasaan orang luar, terutama Eropa dan beberapa Asia yang sudah maju. Penulis mengajukan pertanyaan ke beliau :

Pak, kalau dari bahasan sebelumnya tentang Business Culture, ada banyak hal detil yang dijelaskan kebiasaan negara-negara maju termasuk masyarakatnya. Dan dari contoh-contoh itu sangat jelas, bahwa mereka lebih mudah dideskripsikan. Sekarang kebalikannya, dari penjelasan bapak, terlihat bahwa di negeri kita di masyarakat kita ini banyak yang gak jelas, banyak apa-apa yang seharusnya bisa jalan jadi gak jalan. Nah.. kenapa yang terjadi, justru mereka lebih mampu melakukan penetrasi pasar bahkan menguasai pasar di negeri kita yang masyarakatnya lebih tidak teratur, yang masyarakatnya unpredictable, sebaliknya kita melihat mereka yang teratur, mudah diprediksi, justru tidak mampu merebut pasar atau berbuat lebih banyak di negeri mereka, seharusnya lebih mudah bagi kita. Dan bagaimana cara mereka memetakan kita dari sudut pandang mereka ?

Bagaimana beliau menjawab dan apa jawaban beliau yang tentu saja menarik, agar tidak terlalu panjang (sesuai pernah disarankan oleh salah satu pembaca) kita sambung pada next artikel….(Bersambung)

Semoga Bermanfaat.

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in Lain-lain and tagged . Bookmark the permalink.

11 Responses to Kenapa Produk Indonesia (Hampir) Selalu Kalah Bersaing Di Luar Negeri, Tetapi Lain Cerita Jika Penjualannya Melalui Mereka (Bagian 1)

  1. kang_ulid says:

    Waw… persiapan ke LN segitu detail… mantabbbb…
    Penasaran dg jawabannya nih…

    • boerhunt says:

      hehehe..iya kang, kalo cuma rekreasi jalan2 asal bisa bhs internasional dikit2 tambah modal bawa kamus2 kemana2 masih bisa enjoy dan no problem, tp kalo tujuannya utk jualan, menjalin kerja sama, mengetahui kebiasaan mrk sgt penting, krn kalo belom2 kita sdh dianggap gk sopan sama mrk bisa berabe..hehehe

  2. mas wahyu says:

    di tunggu
    kayaknya menarik nih

  3. evakasih says:

    aset yang paling berharga dalam diri kita adalah karakter kita

  4. tofaninoff says:

    lanjutannya mana, Pak? Terima kasihπŸ™‚

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s