Jika Pembatasan Jarak Tempuh Motor (Saat Mudik) Diberlakukan, Siapa Sebenarnya Yang Diuntungkan ?

Selamat pagi masbro/mbaksist…

Melanjutkan kembali bahasan tentang pemberlakuan pembatasan jarak tempuh motor (ketika mudik)..

Ternyata ini bukan sekedar wacana saja masbro/mbaksist. Seperti yang dilansir media-media, terutama media elektronik, usulan ini ternyata sudah diajukan oleh pemerintah melalui departemen terkait, ke DPR. Dan DPR dalam hal hal ini Komisi V DPR secara prinsip setuju.

Memang sih, mereka (Komisi V) melalui salah satu anggotanya dari Fraksi PKS mensyaratkan, agar transportasi publik selama lebaran harus dipenuhi dulu secara memadai. Tapi kita tahulah, syarat-syarat seperti sekedar syarat. Pertama syarat model begini sifatnya kualitatif, sehingga bagaimana pemenuhannya juga tergantung persepsi masing-masing. Penilaiannya akan bersifat subyektif. Kedua model syarat begini jika tidak dipenuhi juga tidak berpengaruh apa-apa, artinya tidak ada penalti atau punishment apa-apa. Sudah jamak seperti pengalaman lalu-lalu sekedar pemanis bibir. Program tetap jalan.

Nah.. mari coba kita tengok permasalahan ini dari sudut pandang lain. Mari kita tengok, sebetulnya siapa yang paling diuntungkan dengan pemberlakuan aturan ini.

Oke, mari kita tanyakan alasan mendasar kenapa banyak masyarakat menggunakan roda dua mereka untuk mudik saat lebaran. Beberapa alasan mendasar antara lain :

  • Lebih ekonomis
  • Lebih praktis
  • Lebih flexible

Kita bahas satu per satu.

Lebih ekonomis ? Kalau menurut penulis relatif. Kalau ukurannya hanya selama perjalanan, bisa jadi lebih mahal loh pakai roda dua. Terkadang tergantung kemana arahnya mudik. Tetapi ingat, mudik bukan hanya pada saat perjalanan mudik. Tetapi juga ketika berada di kampung. Tentunya ada kebutuhan akomodasi ketika mudik. Namanya lebaran, intensitas bepergian jarak pendek tentu tinggi sekali. Nah..disinilah terlihat jelas bahwa menggunakan motor untuk mudik itu lebih ekonomis. Bayangkan kalau tidak memiliki kendaraan di saat mudik. Harus naik angkutan kesana kemari yang belum tentu saat lebaran tersedia dengan bagus. Itu pun biasanya harga lebih tinggi. Karena lebih banyak yang memilih libur saat lebaran. Mau sewa ? Lebih mahal lagi biayanya.

Lebih praktis ? Ini juga relatif, dengan banyaknya barang bawaan, justru  motor tidak praktis saat perjalanan mudik. Lagi-lagi ini kalau kita melihatnya hanya selama perjalanan ke kampung. Bagaimana selama di kampungnya ? Gak punya kendaraan, susah mau kemana-mana. Jelas butuh kendaraan. Dan lagi mereka sudah bisa mengatur seperlunya jika mereka menggunakan roda dua untuk mudik. Mungkin sebagian barang mereka memaketkan barangnya. Atau ada juga yang anak istrinya naik angkutan umum seperti kereta atau bus, sedangkan si bapak/suami menggunakan motor. Banyak juga yang seperti ini.

Lebih flexible ? Iya..terutama masalah waktu. Kapan saja bisa berangkat, tidak seperti angkutan umum yang harus memilih-milih waktu. Ini berkaitan dengan jadual dimana mereka bisa meminta ijin cuti dimana mereka para pemudik bekerja.

Dari uraian penulis di atas, nampak terlihat. Sebagian besar itu didasarkan atas kebutuhan selama mereka mudik di kampung, bukan hanya selama perjalanan.

Taruhlah kata aturan ini jadi diberlakukan, bagaimana masyarakat pemudik memenuhi kebutuhan itu, apa saja alternatifnya :

  • punya motor cadangan di kampung
  • sewa kendaraan di kampung

Punya motor cadangan ?  Wow…hanya untuk selama lebaran harus punya motor cadangan. Kecil sih kemungkinananya.. Tapi bisa jadi, bagaimana lagi lha wong motor tidak boleh dibawa mudik.

Sewa kendaraan ? Wah bisa jadi akan ada peluang bisnis baru penyewaan-penyewaan motor di kampung. Dan kalau sudah urusan seperti ini, para pemilik motor yang menyewakan akan memilih motor yang baru-baru untuk disewakan.

Wal hasil dari kedua option itu ujung-ujungnya adalah pembelian motor-motor baru. Jadi dengan berlakunya aturan ini siapa yang diuntungkan ? Silahkan jawab sendiri.

Akhir kata.. dalam pandangan penulis. Langkah terbaik (yang mungkin dalam waktu dekat), adalah jangan batasi, tetapi beri aturan yang ketat dan juga pelaksanannya, contohnya batasi barang bawaan yang diangkut oleh motor. Batasi dimensi dan bobotnya, sehingga tidak mengganggu pengendara. Batasi waktunya, ingat dulu pernah ada pembatasan selama mudik motor tidak boleh jalan malam. Itu sudah baik. Mengingat tingkat kesadaran dari rasa kantuk memang cenderung turun di malam hari.

Dan satu lagi pesan buat para pengambil keputusan, coba turun ke bawah, dalami seluk beluknya. Jangan hanya melihat angka-angka di statistik. Baru kemudian ambil keputusan. Jangan ambil keputusan yang hanya untuk menutupi kelemahan (sistem transportasi) namun secara makro merugikan masyarakat.

Semoga bermanfaat.

Tulisan terkait :

Tradisi Mudik Masih Perlukah ?

Pembatasan Jarak Tempuh Untuk Motor ?

Kecewa Berat Dengan Pernyataan Menhub Seputar Meningkatnya Kecelakaan Mudik

Wassalam

Jika ada saran, kritik atau masukan, bisa menghubungi penulis di email atau YM : nice_guy2208@yahoo.com

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in lalu lintas, Roda Dua, Transportasi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Jika Pembatasan Jarak Tempuh Motor (Saat Mudik) Diberlakukan, Siapa Sebenarnya Yang Diuntungkan ?

  1. Aa Ikhwan says:

    ane blm setuju dengan pembatasan jarak tempuh ini,..masih ribet kayaknya😀

    • boerhunt says:

      Emang pemberlakuannya utk mudik aja, tp harapan masy. utk mudik pun blom bisa diberikan secara memadai oleh pemerintah..skrg masy yg dipaksa..spt ulasan yg lalu2, bukan langkah ini yg seharusnya ditempuh

  2. Aa Ikhwan says:

    kl mudik ane memang pake transportasi umum seperti kereta, bis dan lainnya😀

  3. Nah, sistem pembatasannya juga ribet om, Itu pembatasan sekali tempuh atau berdasarkan Plat nomer.

    kalo sekali tempuh, saya ndak pernah menempuh perjalanan 200 KM sekali tempuh, karna biasanya sebelom 200 KM saya udah istirahat duluan. jadi 200 KM TIDAK saya tempuh dalam sekali perjalanan.

    Kalo pembatasannya Plat Nomer. Lha kalo ada orang Surabaya kerja di Jakarta dan dia pake Plat L pas lebaran gimana? Motornya serba salah dong, di Jakarta gak boleh karna plat L (Jkt-Sby lebih dari 700 KM) di bawa pulang ke Surabaya juga ribet. Tar Baru nyampe Bekasi dah kena tilang.

    Mumet..

  4. bang zoel says:

    dibutuhkan kesadaran tingkat tinggi untuk selamat selama berkendara di jalanan…membatasi hanya menimbulkan polemik karena tidak melihat akar permasalahannya…

    • boerhunt says:

      jgn2 emang justru polemiknya yg dicari..buat pengalih perhatian dr yg lebih besar.. :p
      Yang lebih tepat nurut saya pembatasan dimensi dr bawaan, diatur secara ketat agar tidak mengganggu dan membahayakan pengendara maupun pengguna jalan lain..

  5. si Denog says:

    wah…. bisa-bisa hoby explore nusantara bisa terhambat dunk…. hihihhihihihi

  6. Gmc Paradise says:

    kalau bawa motor mungkin lebih murah…
    http://gombongmotorcommunity.com

    • boerhunt says:

      kalo gk bawa anak kecil iya masbro, kalo bawa anak kecil kadang malah perlu nginep di jln, ya terpaksa deh keluar duit buat penginapan..*cerita dr bbrp teman..

  7. Kelana 97 says:

    Ngikut komen Kang ; Saya mudik pake motor biar irit ongkos,tidak direpotkan toeslag,kenaikan tarip yang over price,resiko diturunkan sebelum sampai tujuan,juga fleksibel waktu menyesuaikan keberangkatan dengan libur kerjaan. Saya riding juga sesuai kemampuan badan (kalo capek ya istirahat) juga tidak pecicilan di jalan,surat surat lengkap. Bawaan cuma tas punggung & kardus mie satu. Sangat disayangkan bila aturan itu berlaku. Tidak semua pemudik itu punya banyak uang buat ongkos.

    • boerhunt says:

      terima kasih komennya kang, ya demikianlah.. aku sering ngobrol2 ama pedagang bakso, cuanki, dan juga kebetulan di tempat ane tinggal byk pekerja, ya critanya gitu, pilihan utama ya motor, angkutan umum kalo lebaran itu kalo terpaksa..krn ongkosnya melangit..

  8. Bagi anda, para penduduk kota yang berencana pulang kampung atau mudik dengan kendaraan pribadi (motor maupun mobil) setidaknya harus memenuhi tiga syarat mutlak dan logis dibawah ini jika ingin disebut “Bergaya Pulang Kampung dengan Kendaraan Pribadi”.

  9. Piracetam says:

    Bagi anda, para penduduk kota yang berencana pulang kampung atau mudik dengan kendaraan pribadi (motor maupun mobil) setidaknya harus memenuhi tiga syarat mutlak dan logis dibawah ini jika ingin disebut “Bergaya Pulang Kampung dengan Kendaraan Pribadi”.

  10. tirev says:

    LUAR BIASA!!! lampu motor nyala siang hari (anda tahu harga lampu depan ori honda tiger?), helem logo sni (anda tahu kualitas standar DOT?), pembatasan jarak tempuh motor (anda tahu mayoritas orang indonesia miskin?) anda benar2 pintar, hebat dan berpola fikir intelek!!!

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s