Tinjauan Lain Seputar Salah Kaprah Penggunaan Lampu Hazard

Baru-baru ini pihak Kepolisian sebagai pihak yang berkewenangan dalam urusan lalu lintas menggaungkan (kembali) permasalahan penggunaan lampu hazard.
Seperti kita tahu, lampu hazard adalah lampu kuning yang menyala secara bersamaan kanan dan kiri dengan pola berkedip-kedip. Seperti lampu sein (aplikasinya sih lampu sein), tetapi menyalanya berbarengan.

Tentu sudah banyak yang membahas tentang ini, tapi penulis akan menghadirkan sudut pandang lain. Mari berdiskusi.

Aturan penggunaan lampu hazard bisa kita baca di Undang-undang No. 22 Tahun 2009.

UU No. 22 Thn 2009 tentang Lalu lintas dan angkutan Jalan
Pasal 121
(1) Setiap Pengemudi Kendaraan Bermotor wajib memasang segitiga pengaman,
lampu isyarat peringatan bahaya, atau isyarat lain pada saat berhenti atau Parkir
dalam keadaan darurat di Jalan.

Dari PP No. 44 Thn 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi
Pasal 29
(1) Setiap kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan lampu-lampu dan alat pemantul cahaya yang meliputi : a. lampu utama dekat secara berpasangan; b. lampu utama jauh secara berpasangan, untuk kendaraan bermotor yang mampu mencapai kecepatan lebih dari 40 km per jam pada jalan datar; c. lampu penunjuk arah secara berpasangan di bagian depan dan bagian belakang kendaraan; d. lampu rem secara berpasangan; e. lampu posisi depan secara berpasangan; f. lampu posisi belakang secara berpasangan; g. lampu mundur; h. lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor di bagian belakang kendaraan;
i. lampu isyarat peringatan bahaya; j. lampu tanda batas secara berpasangan, untuk kendaraan bermotor yang lebarnya lebih dari 2.100 milimeter; k. pemantul cahaya berwarna merah secara berpasangan dan tidak berbentuk segitiga.

Pasal 32
(1) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf c berjumlah genap dan mempunyai
sinar kelap-kelip berwarna kuning tua dan dapat dilihat pada waktu siang atau malam hari oleh pemakai jalan lainnya.
(2) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1.250 milimeter di samping kiri dan kanan bagian depan dan bagian belakang kendaraan.

Pasal 38
Lampu isyarat peringatan bahaya seperti dimaksud dalam Pasal 29 huruf i, menggunakan lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 yang menyala secara bersamaan dengan sinar kelap-kelip.

Dari Undang-undang tersebut sudah jelas pemakaian lampu hazard adalah untuk berhenti/parkir secara darurat karena kendaraan mengalami masalah alias mogok, bukan untuk kendaraan berjalan.

Dalam pengamatan penulis, ada beberapa kesalahan penggunaan lampu hazard yang tidak semestinya, yaitu :

  • Digunakan untuk konvoi atau iring-iringan kendaraan
  • Digunakan pada waktu hujan atau masuk di terowongan yang mengharuskan memakai lampu, tapi bukan lampu hazard
  • Digunakan sebagai isyarat oleh kendaraan yang akan mengambil jalan lurus ketika berada di perempatan/persimpangan jalan

Tombol hazard, ada di kendaraan roda empat atau beberapa jenis motor besar. Dari gambarnya pun sudah terlihat seperti segitiga pengaman yang melambangkan berhenti secara darurat. (sumber gambar : National Geographic Indonesia)

Nah, apakah “kesalahan-kesalahan” diatas mutlak salah ? Tunggu dulu..monggo kita berdiskusi lebih lanjut.

Opini Penulis

Dalam pandangan penulis, seluruh lampu yang dipakai di kendaraan pada dasarnya (selain untuk penerangan) berfungsi sebagai alat komunikasi dengan pengemudi/pengendara kendaraan lain atau isyarat bagi pengemudi lain. Lampu sein kanan, artinya pengemudi mengatakan kepada pengendara lain akan belok kanan, lampu sein kiri berarti mau ke kiri. Jadi di sini fungsi lampu isyarat adalah untuk berkomunikasi. Syarat komunikasi lancar adalah menggunakan bahasa yang sama. Bahasa yang sama-sama dimengerti oleh semua pihak dalam berlalu lintas.

Nah..bagaimana jika bahasa (isyarat) ini ada yang salah memahami dan kesalahannya bersifat kolosal ? Karena menurut penulis, kesalahan penggunaan lampu hazard ini sudah bersifat kolosal atau masive. Bukan hanya pengemudi awam, kita sering melihat pengawalan resmi juga yang tentunya petugas menggunakan lampu hazard juga. Padahal pengawal sudah punya sirine dan lampu rotator untuk keperluan itu.

Kira-kira apa solusinya menyelaraskan pemahaman yang salah secara kolosal ini ?

Dua Pendekatan Solusi

Menurut penulis, ada dua pendekatan berbeda yang mungkin bisa diambil, dua-duanya memiliki efek positif dan negatif.

Pendekatan pertama adalah dengan terus menerus dilakukan sosialisasi penggunaan lampu hazard secara benar. Keuntungannya adalah kita tidak berbeda dengan konsensus internasional dalam lalu lintas, makanya seluruh pabrikan harus memiliki tombol untuk lampu hazard. Tetapi kelemahannya, pihak terkait yang bertanggung jawab terhadap sosialisasi ini perlu effort yang besar, mengingat kesalahan ini bersifat massal.

Pendekatan kedua adalah pendekatan yang bisa dibilang radikal. Kenapa penulis sebut radikal, karena pendekatan ini akan merubah aturan yang ada. Pertimbangan penulis, daripada susah-susah mensosialisasikan aturan yang sudah terlanjur salah dipahami, mending sekalian aturan yang disesuaikan berdasarkan kesalahan massal. Seperti yang penulis sebutkan, toh fungsi lampu isyarat kan agar sama-sama mengerti maksud dari pemberi isyarat. Sehingga dengan sama-sama mengerti akan bisa menghindari celaka/kecelakaan. Pendekatan ini punya kelemahan sekaligus keuntungan. Keuntungannya effortnya lebih kecil, karena kesalahan penggunaan lampu hazard ini sudah bersifat massal. Tinggal merubah atau menambahi aturan, bahwa lampu hazard bisa juga atau boleh dipakai untuk isyarat di saat hujan, atau untuk tujuan lurus ketika dipersimpangan. Kelemahan pendekatan ini adalah, dengan merubah aturan ini, akan membedakan diri dengan konsensus internasional tentang lalu lintas. Kalau berbicara konsensus atau aturan internasional, kita tentu tahu, aturan belok kiri langsung juga agak berbeda dengan konsensus internasional bukan😀. Jadi bukan masalah besar penulis rasa. Tetapi ada kelemahan lain, yaitu pengemudi yang terbiasa di Indonesia, perlu penyesuaian jika berkendara di luar negeri. Hanya saja mungkin prosentasenya akan kecil sekali. Kalaupun banyak yang sering ke luar negeri, belum tentu berkendara sendiri. Lebih banyak menggunakan angkutan publik yang sudah nyaman, aman, dan jelas sudah lebih bagus dari di tanah air.

So..bagaimana pendapat masbro/mbaksist semua..monggo dishare pendapatnya..

Semoga bermanfaat

Salam

Jika ada saran, kritik atau masukan, bisa menghubungi penulis di email atau YM : nice_guy2208@yahoo.com

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in lalu lintas, Otomotif and tagged , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Tinjauan Lain Seputar Salah Kaprah Penggunaan Lampu Hazard

  1. Aa Ikhwan says:

    gunakan pendekatan pertama kalo berhasil ya teruskan,..kl gak berhasil pake pendekatan kedua😀.

    tapi ane lebih prefer ke pendekatan kedua:mrgreen:

    • boerhunt says:

      Udah bertahun-tahun salah kaprah ttg ini a’, tergantung pihak berwenang, kalo mau gampang kedua, kalo bertahan pertama mrk harus kerja keras..lha masalahnya ujian SIM harusnya sdh menyentuh aturan spt ini biar efektif

      • Aa Ikhwan says:

        iya memang sudah salah kaprah n sy saksikan juga sering di jalanan,.. memang yg punya otoritas yg mesti bertindak ,..masyarakat hanya memeri saran dan solusi, tinggal pemerintah sebagai pelaksana aturan😀

        nice artikel sob

      • boerhunt says:

        Betul sekali a’

  2. si Denog says:

    mungkin ga ya di lakukan pendekatan azas manfaat?? kalo semisal memang difungsikan untuk lampu bahaya, toh ketika di jalanan Indonesia (yang notabene kesadaran berkendaranya masih kurang) banyak bahaya yg tidak terduga, semisal :
    1. menyebrang jalan dengan tiba2
    2. belok dengan tiba2
    3. ada acara hajatan di pinggir jalan (hehehehe, blm tentu di luar negeri seperti ini kan)
    4. perempatan tanpa lampu sinyal maupun pengatur arus jalan (di luar juga ga seperti ini)
    toh, difungsikan untuk memberi peringatan buat pengendara di belakang kita supaya berhati-hati dengan bahaya di atas. Tapi klo konvoi pake hazzard, emang ane kurang setuju om… selain terkesan minta jalan ma penggunan lain, juga bikin bingung anggota konvoi yang di belakangnya (mau belok jadi kaget) IMHO

    • boerhunt says:

      bener banget, kalo rombongan/atau konvoi pake lampu hazard, malah membingungkan kalo mau belok kanan/kiri, kalo motor emang bisa isyarat tangan, kalo mobil ?

      • si Denog says:

        klo mobil makenya hanya keadaan tertentu aja om…. jgn rombongan / konvoi pake hazzard, kecuali emergency… biasanya klo ngikutin ambulan atau pengawalan gitu, pastinya mereka kan tau arah kemana mau dibawanya om… hehehehehehe IMHO

      • boerhunt says:

        ati2 ngikutin ambulance kang, krn kalo ambulance nabrak gpp, tp kalo yg ngikuti dibelakangnya nabrak kena masalah😀

      • si Denog says:

        kembali lagi berarti yah… tetep ati2 aja…. kembali juga bukan alat yg membuat kita selamat, tapi cara penggunanya yg membuat selamat…. hahai…

      • boerhunt says:

        Betul banget..the man behind the gun ..:D

  3. vixy182 says:

    malah sering di pake buat jalan lurus kalo di simp 4 kebanyakan ..vixy182.wordpress.com/2012/03/27/grasstrack-koplak-full-action-bro/

  4. gogo says:

    pas beli kendaraan sebisa mungkin membaca semua buka manualnya..

    klo lg iseng sempet juga make hazard mbuntutin mobil ambulance biar bisa ttp jalan terus nrobos lampu merah😀

  5. wahyu says:

    Harus berdasarkan aturan yang berlaku jangan membisakan yang biasa yang tentu nya sudah salah jangan diteruskan,bagaimana bisa benar kalau mebiasakan yang salah,maka harus lebih di laksanakan pengetahuan dari pihak yang berwenang khusus nya pihak kepolisian supaya pengguna jalan lebih mengetahui aturan yang sebenarnya dan pengguna jalan juga di harapkan tidak menggunakan aturan sendiri dijalan,trima kasih.

  6. Faried says:

    Ada beberapa cara yg seharusnya ditempuh pihak berwenang,
    1. Sosialisasi undang-undang lalu lintas secara efektif, karna sebetulnya bukan cuma masalah lampu hazard aja yg salah kaprah, banyak hal lainnya yg lebih salah kaprah lagi.
    2. Setelah UU nya disosialisasikan dengan baik, kemudian dilakukan penegakan aturan secara tegas. Jadi pada saat penegakan aturan tersebut para pengguna jalan sudah tahu aturan yg benar mana.

    • boerhunt says:

      setuju.. yg paling penting sosialisasinya dulu, belum pernah tau seberapa efektif sosialiasi aturan diukur…sptnya blm pernah dievaluasi..just imho yah.. entah masyarakatnya yg terlalu cuek atau memang sosialisasinya kurang efektif..

  7. priyo setyanto says:

    Tetap harus jalankan yang benar (1). Itukan konsensus international, jangan hanya melihat orang kita kalo nyetir di luar. Orang luar yang nyetir/berkendara di Indonesia kan juga banyak, apa kita rela dibilang negeri yang tidak tahu aturan. Soal sosialisasi, gampang: pasang aja spanduk di jalan jalan utama, jalan Tol. Selesai.

    • boerhunt says:

      betul gan, sy melihatnya dr sudut pandang, mana yg lebih mudah dan efektif, me-“legal”kan yg sudah salah kaprah, ataukah lebih giat mensosialkan yang sudah jd konsensus baku.. tp kalo masalah itu konsensus international dan kaitannya dgn “tidak tau aturan” kyknya gk juga gan, bisa saja sebuah aturan itu berbeda satu negara atau satu daerah dengan lainnya, selama aturan/konsensus lokal itu kita patuhi bareng2 di tanah air, walau berbeda dgn internasional, sy rasa bukan “gak tau aturan”..aturan setir aja ada dua kok, setir kanan dan setir kiri, jd kembali pd konsensus bersama, baik itu bersifat lokal, atau global.. just imho

  8. herry says:

    pengemudi truck lebih edan di jalanan daripada sepeda motor.. apa lagi diluar kota jalan bypass atau jalan kota meski si truck tuh suka ugal²an.. !! bila motor tidak menyalakan lampu hazard si truck malah tidak melihat kalau di depannya ada motor.. !!

  9. ya pertama dari pihak ditlantas polri instruksi perintah kepada jajaran untuk tak lagi menggunakan isyarat hazzard dipergunakan saat sedang konvoi atau kendaraan bergerak !

    nah masyarakatnya kembali di edukasi bagaimana prosedur tata krama nya berkendara yg sesuai UU Lalin yg berlaku

  10. Hak Utama Penggunaan Jalan
    Untuk Kelancaran Lalu Lintas

    Pasal 65

    (1) Pemakai jalan wajib mendahulukan sesuai urutan prioritas sebagai berikut :

    a. kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksa- nakan tugas;

    b. ambulans mengangkut orang sakit;

    c. kendaraan untuk memberi pertolongan pada kecela- kaan lalu lintas;

    d. kendaraan Kepala Negara atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu negara;

    e. iring-iringan pengantaran jenazah;

    f. konvoi, pawai atau kendaraan orang cacat;

    g. kendaraan yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus.

    (2) Kendaraan yang mendapat prioritas sebagaimana dimak- sud dalam ayat (1) harus dengan pengawalan petugas yang berwenang atau dilengkapi dengan isyarat atau tanda-tanda lain.

    (3) Petugas yang berwenang melakukan pengamanan apabila mengetahui adanya pemakai jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

    (4) Perintah atau larangan yang dinyatakan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas tentang isyarat berhenti tidak diberlakukan kepada kendaraan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a sampai dengan e.

    ————————
    butir (4) itu maknanya apa? kalau (f)konvoi, boleh pakai isyarat berhenti gitu?

    • boerhunt says:

      apakah justru bukan sebaliknya, artinya yg dimaksud perintah/larangan itu penggunaan isyarat berhenti tidak diberlakukan pada kendaraan pawai, konvoi, kendaraan orang2 cacat.. artinya bukan dipakai utk pawai/konvoi/kendraan org cacat

  11. Tiar says:

    Menurut sy ini bukan salah kaprah justru malah membantu, bagaimana tdk sy pernah mengalami suatu kejadian saat berkendara dijalan tol yg waktu itu dgn kecepatan 100 km/jam sy tdk tahu kalo jalan yg didpn sy itu sedang macet total bahkan sampai berenti total, seandainya saja kendaraan yg didpn sy tdk pd menyalakan lampu “sein hazard” mungkin saja sy sdh bertabrakan dgn kendaraan yg didpn sy, dari situ sy memahami/melihat betapa pentingnya penggunaan lampu “sein hazard” dlm kondisi seperti itu utk saling mengingatkan/memberi isyarat agar berhati-hati dgn keadaan disekitarnya saat berkendara & jika suatu saat ada yg melihat kendaraan didpn anda menyalakan lampu “sein hazard” utk amannya lebih baik anda segera mengurangi kecepatan & mengeremlah agar kendaraan anda berhenti karna keadaan jalan didpn anda pasti sedang ada gangguan mungkin sedang ada kejadian tertentu. Kalo ada yg bilang itu salah kaprah “MAAF” menurut sy berarti orang itu yg belum mengerti/tdk mengetahui keadaan dijalan yg setidaknya akan sedikit membantu keselamatan semua pengguna/pamakai jalan.

  12. Tiar says:

    Penggunaan lampu “sein hazard” pd saat hujan pun menurut sy itu penting juga sebab dgn memakai/menggunakan lampu “kecil/senja/kota” saja tdk cukup & sulit utk terlihat oleh kendaraan yg dibelakangnya karna lampu “kecil/senja/kota” itu hanya bersifat DIAM saja yg apalagi bila jalanan sedang diguyur hujan deras dgn jarak pandang hanya 1-5 meter, bila dlm kecepatan tinggi itu akan sangat membahayakan bagi pengendara yg ada dibelakangnya utk rem mendadak dlm keadaan jalanan yg basah sdh pasti jalan itu pun akan licin juga, tapi apabila menggunakan lampu “sein hazard/berkedip dua2nya” itu akan dpt terlihat dr pengendara yg ada dibelakangnya hingga radius beberapa ratusan meter dgn jarak pandang kedepan.

    • dado says:

      Penggunaan lampu “sein hazard” pd saat hujan pun menurut sy itu mengganggu pandangan saya sebagai pengguna kendaraan roda dua yang mana helm saya tidak menggunakan wiper, jarak pandang tambah pendek.
      pengalaman saya saat mendapati kendaraan roda empat Jenis Box Type APV merk Suzuki dengan Nopol tidak terlihat jelas,saat hujan teramat sangat deras sekali dan kendaraan tersebut melaju scepat 20 Km/h dengan menyalakan Hazard Sign, Let’s Play Cops, salip perlahan, tepuk 2x jendela driver, beri isyarat untuk menepi, cukup saya tunjuk-tunjuk arah kiri saat di bagian depan kendaraan.
      stelah kendaraan STOP, kembali saya dekati jendela driver sembari memberikan Penghormatan seolah-olah driver tersebut adalah seorang yang taat pajak yang menjadi muasal gaji Polisi.
      sesuai dengan waktu, saya ucapkan “selamat petang, tolong tunjukan SIM saudara ….. bagus, masih berlaku, selanjutnya saya sarankan saudara jika sudah tidak sanggup berkendara pada cuaca seperti ini, silahkan menepi sejauh mungkin dari badan jalan, tidak perlu menyalakan Hazard jika tidak darurat seperti kendaraan mati dan susah hidup kembali, karena lampu senja bagian belakang saudara masih dapat terlihat dengan jelas, saya pribadi sangat terganggu dengan Sign Hazard kendaraan saudara yang melaju dengan pelan, satu lagi, jangan pernah meminta Hak pengendara di depan dan belakang saudara yang menggunakan jalur cepat dengan terus menyalakan lampu SIGN kanan, gunakan DIM atau klakson untuk permisi pada pengendara di depan saudara jika memang saudara mampu menyalipnya, gunakan lampu SIGN hanya untuk berbelok dan ganti arah, terimakasih atas perhatiannya, saya Hendra Gunawan, Anggota Satuan Pengamanan Kompleks Villa Kota Bunga, silahkan simpan kembali SIM saudara, selamat petang dan selamat berkendara”. Penghormatan Penutup dan balik kanan.
      Pendekatan Pertama dengan harapan pengendara tersebut dapat menyampaikan pengalaman 10 menitnya bersama saya kepada sesama pengendara lain.
      pengalaman lain dengan Kendaraan Roda 4 Type Sedan, dalam cuaca memungkinkan saya minta tolong kepada pengendara untuk turun dari kendaraannya untuk menyampaikan pendekatan pertama, gak enak ngomongnya sambil bungkuk-bungkuk mah, hehe. terimakasih.

      • boerhunt says:

        Penjelasan yang sangat bagus pak, memang ada hal2 yang tidak boleh dijadikan rancu pemahamannya, jika kondisinya benar2 terjadi, kesalahan pemahaman bisa jadi akan sangat fatal akibatnya, salah satunya lampu hazard di tol dan juga penggunaan lampu bening yg seharusnya mengarah ke depan atau ke arah mana kendaraan melaju, malah dijadikan lampu belakang, tetapi bukan lampu mundur (atret), bisa memicu kecelakaan fatal.

  13. Ketut Giri says:

    Bagaimana dengan konvoi plat RF yang numpang lewat di jalan tol?
    pihak kepolisian menggunakan lampu hazard yang (setau saya) tidak tertuang kewenangannya di aturan manapun

    cmiiw

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s