Selingan : Sedikit Cerita Dan Kuliner Di Anging Mamiri Serta Tips Kecil Perjalanan

Selama 3 hari di Makassar sejak hari Rabu penulis dengan beberapa temen ditugaskan memberi pelatihan tentang aplikasi baru berkaitan travel management. Sudah 3 tahun lebih penulis tidak menginjakkan kaki di bumi Anging Mamiri. Begitu mendarat langsung merasakan perubahan yang besar terjadi. Apalagi kalau bukan Bandara Hasanuddin yang baru. Sekilas tidak mengesankan ini bandara yang kebanyakan ada di tanah air. Nuansanya tidak seperti Juanda, Soetta, atau yang lainnya. Seperti Bandara luar negeri. Sayang lupa jepret-jepret.

Oke lanjut.. Kata banyak orang, kalau ke Makassar tapi gak makan sup daging yang namanya Palubasa, tidak akan lengkap. Karena, tidak seperti Sop Konro dan Coto yang hampir selalu ada di kota besar di Jawa, Sop Palubasa ini hanya ada di Makassar dan sekitarnya. Dan rasanya nikmat melebihi Sop Konro (nurut penulis sih, tapi banyak juga yang bilang kok)😀. So begitu turun dari pesawat yang kemudian dijemput menuju tempat menginap di daerah Panakukang, taruh tas langsung menuju Sop Palubasa yang ada di jalan Srigala Makassar. Pas banget jam makan siang..udah lebih sih..makanya laper banget hehe.

Sop Palubasa jalan Srigala ini punya cerita yang unik. Uniknya dulu ketika tempatnya bukan di ruko seperti sekarang, melainkan masih bentuk tenda. Kebetulan penulis masih punya foto lamanya.

image

Jangan salah, walau cuma tenda gitu, pejabat tinggi daerah makan pula disitu, bahkan mantan Ketua PSSI yang asal Sulsel juga pernah beli disitu. Mobil paling wah yang makan di situ Hummer (atau Humphey yah ? cmiiw)😀

Uniknya..pada jam-jam istirahat atau jam makan siang, yang ngantri bujubuneengg.. kita harus antri berdiri persis dibelakang orang yang sedang makan. Bagian perut kita kadang sesekali nempel pada punggung orang kalo kita tidak jaga jarak hehe. Dan yang antri pun dempet-dempetan dengan sesama pengantri. Tidak jarang yang ngantri bisa dua lapis, artinya selain satu baris antri dibelakang orang makan, masih ada baris dibelakangnya. Gak mau ngantri, yo tiwas gak makan karena kehabisan.Buweehh..mana panas (tahu sendiri gimana panasnya Makassar), laper, kena aroma nikmat, disuruh liat orang lagi makan pulak..!

image

Yang berdiri dibelakang orang lagi duduk makan itu bisa 2 lapis..hehe

Dan yang unik lagi, pak haji pemilik sekaligus yang meracik Palubasa tidak melayani pembelian yang mangkoknya dibawa ke mobil, atau diantar ke mobil. Kalau mau makan ya di meja yang disediakan. Semua harus ikut aturan, harus antri, gak perduli itu pejabat seperti Kapolda sekalipun. Tapi kalo pejabat yang antri ajudannya, pejabatnya diam di dalam mobil. Begitu sudah dapat tempat duduk, sang ajudan laporan telpon hehe.
Itu dulu ketika masih di tenda, sekarang nuansa seperti itu tidak ada lagi, karena sudah menempati ruko yang cukup luas. Tapi menurut info kadang masih antri juga pada waktu tertentu. Beruntung penulis bisa mengikuti evolusinya dari sejak awal.

Pada awal dulu, jangan harap jam 12 siang berangkat akan dapat “jatah”. Sering sudah habis, gila padahal bukanya jam 9 pagi. So kalau dari bandara pagi mending langsung.
Dan dengan kondisi antri gitu hampir gak pernah lihat karyawati yang makan siang disitu. Tapi belakangan hampir semua kalangan gak perduli dengan kondisi ngantri. Jadi semangat ngantrinya hehe.

Tapi sekali lagi itu dulu, sekarang datang jam 8 malam pun masih ada. Kayaknya jatah dagingnya makin banyak. Dan Palubasa ini dilihat dari bahan makanannya juga unik. Bahan dasar utamanya daging sapi atau tedong (orang sulawesi menyebut kerbau dengan Tedong). Uniknya daging yang diambil khusus dari bagian kepala. Favorit penulis adalah minta bagian pipi😀. Dan uniknya lagi, diatas supnya dikasih kuning telor yang disitu disebut alas. Kalau kita pesan biasanya ditanya “pakai alas ?”

image

full kolesterol..mantab mentong kata orang makassar hehe

Full kolesterol bok hehe. Jadi yang kolesterolnya tinggi hati-hati ya. Oh iya tambahan lagi, ketumbarnya banyak, dan diberi parutan kelapa yang dibakar, bukan serundeng yang disangrai.

Itu kuliner pertama, yang kedua kulinernya Soto Kikil Madura yang di jalan Batu Putih, di dekat daerah jalan Ratulangi dan Sungai Saddang. Dari judulny sudah jelas bahannya kikil sapi. Keutamaannya ya rasanya maknyuusss. Bagi yang alergi kolesterol mending nyerah saja. Gimana gak, full kaldu dan full sumsum. Sumsumnya ya dari tulang kikilnya yang caranya dengan disedot pakai pipet. Mantab.. kalau di Sulawesi Tengah ada yang mirip, yaitu Kaledo, singkatan dari Kaki Lembu Donggala. Sayang hanya ada di Sulteng.

image

Ini juga, full kolesterol..dasar maniak kuah (berkaldu), habes sampe tetes terakhir..hehe

Dua kuliner diatas jelas full kaldu, yang kalau di Bandung susah nyari padanannya. Ada mie kocok kikil, tapi miskin sekali dari kaldu (asli). Padahal kikilnya kan direbus dulu, dibuang kali yah kaldu hasil rebusannya.
Nah kuliner ketiga lupa lagi di jepret (maklum tidak berjiwa jurnalis hehe), yaitu Ulu Juku di jalan Racing Center.
Ulu Juku dalam bahasa Indonesia artinya kepala ikan. Ya memang ini hidangan khusus kepala ikan, yaitu kepala ikan kakap (merah). Lho kok kepalanya doank.. ada ceritanya masbro mbaksist.

Dulu (maupun sekarang) pedagang ikan Makassar mengekspor ikan Kakap Merah ke manca negara. Nah ekspornya bukan dalam bentuk ikan utuh, melainkan diambil badan hingga ekornya saja, kepalanya dibuang. Tadinya kepala-kepala ini dibuang. Tetapi kemudian ada yang memanfaatkan dengan menjadikannya sop kepala ikan. Yah ceritanya bisa ditebak, akhirnya banyak yang suka jadilah makin banyak rumah makan dengan tema sama.😀

Menurut penulis yang enak adalah jenis Palumara, yaitu yang bumbunya dikasih asam-asaman. Tiga kuliner itu sudah cukup untuk menemani masbro/mbaksist jika mengadakan kunjungan singkat di Makassar. Untuk oleh-oleh jangan lupa beli Markissa. Dan favorit penulis adalah gambar di bawah ini. Bulirnya asli, rasanya persis dengan perasan langsung🙂
image

Cukup puas menikmati kuliner sambil mengemban tugas, penulis harus kembali ke Jawa.

Ada cerita cukup menarik perjalanan kembali dari Makassar menuju Surabaya. Penerbangan yang penulis pesan (booking) adalah Lion Air sore pukul 17.15 WITA. Tetapi ternyata ketika check in tiket punya penulis diajukan ke pukul 16.45 WITA. Itu tanpa konfirmasi ke penulis.
image

Dengan santainya penulis jalan-jalan di outlet (2) bandara. Bahkan ngobrol tanya-tanya cukup lama di stan Oakley yang lagi ada sale end session. Lha kok ndilalah asyiknya liat-liat, penulis dengar nama dipanggil untuk segera boarding. Reflek lihat jam ternyata belum (masih belum sadar kalo dimajukan). Tapi coba cek lagi tiket…mati awak..mana gatenya jaoh pula. Larilah jadinya sambil nenteng tas hiks.. Untung gak telat. Seperti biasa minta maaf ke penumpang lain, karena bikin penerbangan tertunda sesaat. Karena kalo nama kita sampai dipanggil, itu artinya kita yang paling terakhir, dan pesawat menunggu kita. Sialan petugas cek in gak ngasih tahu.
Tapi begitu duduk baru nyadar kalo dikasih tempat duduk klas bisnis, padahal belinya ekonomi. Gak jadi deh marah-marah. Alhamdulillah, diberi welcome drink, diberi handuk kecil basah, diberi pula makan. Kalau ekonomi ? Kering kerontang.
(Lesson learn, selalu perhatikan/simak jika ada pengumuman, jangan cuek)

Sesampainya di bandara Juanda Surabaya cerita pengalaman lagi. Biasanya penulis dijemput adik pakai motor atau kakak pakai mobil. Kali ini terpaksa pakai taxi. Ojek ? Berhubung bawa dua tas satunya gede ribet ntar. Sama-sama bayar mending sekalian taxi. Kalo cuman rangsel biasanya ojek. Nah niatan mau pake taxi bandara langsung surut. Tarifnya terlalu mahal. Ke kompleks ITS harganya 2,5 kali lipat taxi normal. Buju buneeeng. Penulis tahu berapa tarif argonya taxi dari ITS ke bandara. Ya sudahlah..gak kurang akal, naik bus Damri (satu-satunya) jurusan bandara-bungurasih (terminal) 15 ribu. Turun di lampu merah setelah bus belok kiri keluar bandara. Dari situ baru naik taxi yang gampang didapat. Itu menghemat lebih dari setengah.
Nah jadi tipsnya kalau mau naik taxi dari bandara juanda dengan lebih murah ya gitu caranya. Itu kalau terpaksa kudu pake taxi karena bawa barang, kalau penulis sih bisa ngojek ya ngojek aja hehehe.

Semoga bermanfaat.

Salam.

Jika ada saran, kritik atau masukan, bisa menghubungi penulis di email atau YM : nice_guy2208@yahoo.com

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in Lain-lain, Transportasi, Trip & Kuliner and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

26 Responses to Selingan : Sedikit Cerita Dan Kuliner Di Anging Mamiri Serta Tips Kecil Perjalanan

  1. gogo says:

    mantab tipsnya… klo urusan kuliner daging, rendang ama ayam goreng burus jagoannya..

    selalu cek jadwal keberangkatan… terkadang petugasnya ngawur..

  2. nanared says:

    ce … ce …. yang baru pulang dari jumpandang,tidak nakasi tauki kalaw dari situ, selamat datang di sulsel bro *telat*
    *ujung pandang=makassar tempo doeloe:mrgreen:

  3. Aa Ikhwan says:

    ngiler ane.. penyuka daging tp mesti cek kolesterol nh soalny sering sakit di leher🙂.

    nice perjalanan sob😀

  4. javabiker says:

    Hmm, menggugah selera, jadi ngiler😉

  5. Dr.Feelgood says:

    wah enak semua ini mah, bagi dong heheheh…..:mrgreen:

  6. wuiihh.. antrinya 1jam, makan cuma 10mnt…😀

    • boerhunt says:

      Iya pak..aku pernah ngalamin, begitu datang penuh, yg antri pun penuh, jadi utk antri berdiri (spt di foto) perlu antri dulu diluar tenda, antri utk ngantri, udah gitu dpt jatah dibelakang orang yg bolak balik nambah, kalo salah milih antrian cilaka hehehe

  7. CY says:

    spt nya enak iya……..

  8. ya2kzzz says:

    asli ngiler..btw juanda – ITS sukolilo??wah jauh banget,,naik taxi ya terkuras habis dompet..:mrgreen:

    • boerhunt says:

      Lha iya..nek dipikir2 gk lucu yo jarak dekat darat tarifnya 1/3 nya naik pesawat mksr-sby, makanya mending dijemput adek naek motor, tp pas SIM nya habes hehe

  9. v1d32 says:

    om surabaya ne ndi… saya dulu 3 bulan di sby… sidoarjo… di gerbang waru…

    • boerhunt says:

      Komplek ITS masbro..tp rumah kakak, cuma tempat ampiran, waru sebelah mana? Deket bungurnya?

      • v1d32 says:

        ooo ane sih di deket mesjid agung surabaya…. ngerjain di kantor gerbang deket gerbang waru utama ruas surabaya gempol… dulu tapi sekarang ga ke sana lagi

      • v1d32 says:

        ane dulu di deket gerbang waru utama ruas surabaya gempol… deket cito om… jalan a yani itu. dulu sekarang dah ga ke sana lagi

  10. warung DOHC says:

    byuuhhh byuuhh manteb tenan ada sumsum kaki juga #ngilerrrr :mrgreen:

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s