Produk Premium Seharusnya Juga Diikuti Pelayanan Yang Premium

Artikel ini masih ada hubungannya dengan artikel penulis sebelumnya, yaitu tentang produk premium yang tidak dijual massal, serta hubungannya dengan perbedaan mindset Asia dan Eropa. Yaitu menyangkut KTM Duke200 (DZOO).

Seperti yang penulis singgung sebelumnya, mindset orang Eropa ketika menyebutkan produk premium, yang mereka maksud premium secara total, dari mulai produknya sendiri, kualitas (dlm hal otomotif tentu performa, reliability, durability dll) telah teruji, hingga pelayanan terhadap pengguna produknya.

Dalam hal produk yang premium, tentu masbro/mbaksist sudah atau bahkan lebih paham. Nah yang mungkin sedikit lepas dari pengamatan adalah pelayanan yang premium.

Contoh kongkrit dari pelayanan yang premium/excelent misalnya ruang tunggu yang nyaman, petugas dan mekanik yang handal, ramah dan care. Mungkin masbro/mbaksist yang pernah merasakan atau bekerja di bengkel resmi untuk mobil tentu lebih paham (kalau penulis punya pengalaman dengan bengkel mobil Honda). Dimana setiap penerimaan service dilayani secara face to face apa saja keluhannya, dengan jumlah petugas penerima lebih dari satu. Dan petugas penerima juga punya bekal dasar pengetahuan tentang produk, sehingga bisa diambil analisa awal sebab-sebab dan perkiraan apa yang mungkin perlu diganti. Jadi bukan sekedar menjadi pencatat keluhan semata. Hal belum pernah penulis jumpai di bengkel motor. Kalau Ducati Indonesia penulis rasa sudah seperti itu, maklum penulis gak punya Ducati jadi gak tahu😀.

Atau misalkan secara rutin customer service akan mengingatkan konsumen melalui telpon jika produk mobil/motornya sudah mendekati waktu wajib service berdasarkan data yang di simpan oleh bengkel service.
Dan contoh-contoh lain sentuhan personal dari pelayanan premium. Tentu masbro/mbaksist yang berkecimpung dalam dunia Customer Service (CS) lebih paham.

Nah…dari hal-hal di atas menyangkut pelayanan :

Jika sebuah produk yang diletakkan pada level premium tetapi pelayanannya tidak berbeda dengan produk non premium, maka di mata konsumen umum hanya akan melahirkan opini bahwa produk tersebut overprice.

Produk premium vs Produk Massal

Penulis ingin memberikan sebuah ilustrasi. Contoh kongkrit, kakak pengguna salah satu produk (mobil) pabrikan N***an. Pada waktu beli dulu – waktu itu masih jarang yang pakai – setiap mendekati waktu service selalu ditelpon bengkel untuk mengingatkan. Ternyata belakangan ini, di saat konsumennya makin banyak, berdasarkan informasi dari orang-orang yang penulis kenal yang juga membeli mobil yang sama, sudah tidak seperti waktu kakak beli dulu. Tidak selalu ditelpon untuk diingatkan untuk service. Mungkin daftar konsumen yang harus ditelpon sudah terlalu banyak. Inilah maksud dari pernyataan CSO KTM bahwa produk premium bukanlah produk massal.

Ketika sebuah produk telah berada pada tingkat massal/massive, maka akan susah mempertahankan pelayanannya secara excellent, walaupun produknya bisa dipertahankan (premium).

Sementara mindset Eropa jika berbicara premium harus total termasuk layanannya.

Pembedaan pelayanan (premium) akan menimbulkan diskriminasi ?

Dari uraian diatas, kemungkinan besar akan timbul pertanyaan krusial menyangkut aplikasinya di lapangan. Katakanlah sebuah pabrikan akan total meletakkan satu atau beberapa produknya pada level premium termasuk pelayanannya, sementara juga memiliki/menjual produk non premium, apa nanti tidak akan menimbulkan rasa diskriminasi pada konsumennya?  Bisa jadi pelanggan akan merasa “mentang-mentang motor sport premium, service-nya didahulukan/diutamakan”. Nah lohh…

IMHO..masyarakat aka konsumen kita sedikit demi sedikit perlu mulai belajar memahami bahwa there is a price on an excellent/advance service. Atau dalam bahasa kasar. Gak ono sing gratis cak. Ibarate sampeyan numpak bis eksekutif yo ngunu fasilitase, dudu perkoro diskriminasi. (Gak ada yang gratis masbro. Ibaratnya sampeyan memilih naik bis eksekutif, akan mendapat fasilitas eksekutif juga, jadi bukan perkara diskriminasinya).

Tapi tetap saja sih pabrikan perlu mempertimbangkan juga tentang hal ini. Mungkin ini juga sudah jadi pertimbangan KTM kenapa akan bermain sendiri. Karena kalau bersama BAI, akan terjadi 2 kemungkinan, service premium tidak berjalan atau kalau dipaksakan akan timbul rasa diskriminasi di sisi konsumen.

Penutup

Itu semua baru opini-opini penulis, sangat bisa jadi salah. Untuk itu monggo masbro mbaksist pendapatnya. Terutama masbro yang tadinya punya produk biasa motor honda, terus ganti atau punya lagi produk premium seperti CBR atau PCX. Apakah merasakan perbedaan layanan itu? Atau mungkin produk Kawasaki. Monggo dishare..

Semoga bermanfaat.

Salam

Jika ada saran, kritik atau masukan, bisa menghubungi penulis di email atau YM : nice_guy2208@yahoo.com

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in mobil, Otomotif, Roda Dua and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Produk Premium Seharusnya Juga Diikuti Pelayanan Yang Premium

  1. REC*303 says:

    Ada tuh, khusus CBR dan PCX di AHASS ubung bali memperlakukan mereka dengan layanan premium. Gak perlu antri lama2 dan servis didahulukan dari bebek dan skutik yang lain

  2. Pingback: Dengan Hadirnya Pulsar200NS, Konsumen Pulsar Lama Tidak Perlu Khawatir, Setuju..! « Boerhunt's Blog

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s