Sebuah Tinjauan : Standar Emisi Euro Bukanlah Dikotomi Injeksi vs Karburator (Bag. I)

Di sadari atau tidak, ada polemik seputar issue penerapan Standar Euro-3 dalam kaitannya dengan penggunaan teknologi Injeksi pada produk otomotif (roda dua) vs karburator. Berhubung polemik ini tidak terkait langsung dengan merk (walau ada merk yang bertahan dengan karburator), polemiknya tidak begitu ramai.

Sebelumnya, penulis ingin menegaskan, dengan tulisan ini penulis bukan ingin menambah polemik seputar Injeksi vs Non-injeksi mengenai standar emisi Euro, terutama  Euro3 yang insya Allah akan diberlakukan di Indonesia di tahun 2013 nanti. Melainkan penulis ingin mengajak masbro mbaksist semua untuk melihat gambaran besarnya (Big Picture) agar kita semua tidak terjebak dalam sebuah dikotomi.

Kalau kita pernah mengikuti kuliah atau seminar oleh dosen atau pakar yang benar-benar expert (baik dalam maupun luar), seringkali pertanyaan yang rumit dari seorang audience (yang sepertinya lagi pusing dengan masalahnya yang rumit), dijawab dengan tenang sang pakar/dosen ahli dengan memulai kata-katanya “Mari kita lihat gambaran besarnya dulu..(Look at the big picture)”. Dan dari situ dijelaskan yang ternyata membuka banyak permasalahan yang tadinya rumit menjadi tampak sederhana. Spirit seperti ini yang ingin penulis coba contoh. Tidak ada salahnya hal yang baik kita contoh kan.🙂

Nah, mengenai standar emisi Euro (3) dalam kaitannyaa dengan Injek/non-Injeksi, penulis ingin sedikit mengajak setback dulu, dengan beberapa point penting (IMHO) :

  • Apa sih tujuan standar Euro (3)
  • Seperti apa sih standar Euro (3) ditetapkan
  • Bagaimana standar Euro (3) bisa diterapkan oleh pabrikan pada produksi mereka ?

Poin pertama tentu semua masbro/mbaksis sedikit banyak tahu – tentu banyak yang lebih tahu dari penulis, penulis hanya menggarisbawahi saja – standar emisi Euro (3) ditetapkan dalam kerangka global menanggulangi pemanasan global, melalui pendekatan meminimalisasi emisi zat-zat (gas) berbahaya dari seluruh bentuk vehicle. Karena zat-zat berbahaya dipastikan akan memicu pemanasan global lebih cepat.

Poin kedua adalah, seperti apa standar emisi Euro ditetapkan.

Standar emisi Euro ditetapkan berupa batasan-batasan maksimal terhadap zat-zat berbahaya yang bisa dihasilkan oleh emisi gas buang kendaraan. Zat-zat berbahaya dimaksud di antaranya CO (Karbon monoksida), NOx (Nitrogen oxida / peroxida maupun dioxida), Total hidrokarbon, non-methane Hydrocarbon.

Mereka (para penentu kebijakan tentang standar Euro) tidak menentukan teknologi apa yang mesti dipakai. Ada alasan penting dan mendasar tentang hal ini.

Mereka penentu kebijakan yang nota bene para pakar tentu sudah paham, bahwa teknologi akan berkembang.

Menetapkan sebuah standar, dengan menentukan teknologi yang dipakai, justru akan menghambat perkembangan teknologi itu sendiri. Teknologi hanyalah sebuah cara untuk mencapai tujuan. Tujuanlah yang perlu ditetapkan untuk membuat standar sebagai acuan untuk dicapai tanpa melihat teknologi yang digunakan.

European Emission Standar untuk bensin – sumber : wikipedia

Sistem Injeksi Dan Karburator Hanya Sebuah Teknologi

Kembali ke masalah kaitannya standar Euro dengan sistem pengabutan, yang perlu digarisbawahi adalah, kedua sistem tersebut (Injeksi & karburator) hanya merupakan teknologi pengabutan. Kalau kemudian kita batasi bahwa “Standar Euro harus Injeksi” atau “Karburator pasti tidak memenuhi standar Euro”, penulis tidak sependapat. Alasannya sebagai berikut :

  • Standar Euro hanya menetapkan emisi gas buangnya, bukan teknologinya, apa pun teknologinya black box bagi standar Euro sesuai prinsip yang penulis quote diatas. Yang jelas hasilnya harus memenuhi standar emisi.
  • Injeksi atau Karburator hanya bagian dari seluruh kerja mesin, ada banyak unsur-unsur/bagian proses di dalam mesin yang menentukan emisi gas buang sebuah mesin, bisa bahan bakarnya, pengabutannya (injeksi/karburator), ruang bakarnya, exhaustnya.. dll. Sangat bisa jadi ada teknologi yang diterapkan dalam semua bagian atau sebagian itu untuk mencapai standar euro.
  • Bisa jadi ada teknologi baru dalam hal pengabutan yang bukan injeksi bukan pula karburator yang bisa ditemukan dan kemudian diterapkan. Ingat bahwa teknologi sangat cepat berkembang.

Untuk poin terakhir, penulis berikan ilustrasi. Bagi yang pernah berkecimpung dalam dunia IT khususnya komunikasi data pada pertengahan tahun 90an, tentu pernah mendengar issue2 seputar FTTH, yaitu Fiber To The Home, yaitu jaringan kabel serat optik yang menuju ke rumah-rumah.

Adanya FTTH lahir dari mimpi, bagaimana caranya menikmati layanan Video On Demand sampai ke rumah-rumah. Masbro/mbaksist semua pasti tahu, jaman segitu dengan teknologi jaringan kabel tembaga, mana mungkin. Karena kebutuhan bandwidth untuk layanan itu sangat besar (itungan MBps). Sementara kabel tembaga (saat itu) hanya bisa mengantarkan tingkat level suara yang cuma bbrp KBps. Makanya lahirlah FTTH, dengan harga yang luar biasa mahal, fiber optic bok..! Dan dinegara maju pun hanya kawasan tertentu (elit dan militer) yang diterapkan. Dan mimpi orang komunikasi data ketika itu adalah mengganti semua kabel tembaga dengan fiber optic. Howaa…

Ternyata setelah waktu berjalan, ada teknologi yang muncul, yaitu teknologi xDSL, teknologi pengkodean yang memungkinkan sebuah kabel tembaga menghantarkan data hingga puluhan MBps. Dengan kabel tembaga yang sama yang dulu pengen diganti dengan optic !!!

Mungkin ilustrasi di atas terlihat melenceng. Tapi kita lihat spiritnya. Kalau kita analogikan karburator itu kabel tembaga, bisa jadi ada penemuan teknologi baru yang bisa bikin karburator lebih efisien dari injeksi. Dan itu sama sekali tidak menutup kemungkinan, ya toh..

Waduh..rasanya sudah terlalu panjang, ntar jadi menjemukan, walau ada satu poin lagi, yaitu bagaimana pabrikan akan berusaha untuk memenuhi standar Euro, kita lanjutkan pada tulisan berikutnya. Insya Allah jika ada waktu dan kesempatan.

(bersambung)

Semoga bermanfaat

Salam

sumber :

1 . European Emission Standards – Wikipedia

Jika ada saran, kritik atau masukan, bisa menghubungi penulis di email atau YM : nice_guy2208@yahoo.com

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in mobil, Otomotif, Roda Dua and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

30 Responses to Sebuah Tinjauan : Standar Emisi Euro Bukanlah Dikotomi Injeksi vs Karburator (Bag. I)

  1. uungferi says:

    komplit pake telor dech,….

  2. HRM® Corp says:

    tinggal ya atau tidak saja kadang susah….

  3. Dr.Feelgood says:

    sip….good article

  4. azizyhoree says:

    sip, si Paijo sejak lahir udah euro 2 😉

  5. Pingback: Seputar Standar Emisi Euro, Injeksi vs Karbu, Bagaimana Strategi Pabrikan Menyikapinya (Bag. II) « Boerhunt's Blog

  6. Pingback: Review Blogz,… Standar Emisi Euro bukanlah dikotomi Injeksi vs Carbu dari Boerhunt …!!! « Rudi Triatmono Personal Blogs

  7. satria_bajahitam says:

    cerdas….hehehhe…

  8. Angga says:

    jadi inget ada blogger yg pernah bilang klo keputusan atpm utk stay with karburator krn mengklaim udah lulus euro3 adalah pembodohan otomotif. LOL.
    Yg pembodohan itu atpm yg ga mau pindah ke injeksi apa blogger yg ngajak visitornya bodoh bareng2 ya?:mrgreen:

  9. Yume says:

    Selain euro 3 mungkin tekhnologi injeksi dimaksudkan untuk menghemat BBM, tp pada tekhnologi motor2 india pk karbu aja irit apalagi injeksi wow….

    • boerhunt says:

      Kalo dilihat dr sejarah perkembangannya, kedua teknologi injeksi dan dual busi tujuan asalnya berbeda, injeksi asalnya memang agar lebih irit, sedang dual busi peningkatan performa, tetapi mengerucut pada konsep yg sama, yaitu penyempurnaan pembakaran, dan antara irit dgn berkurangnya emisi sebenarnya dua sisi mata uang, dgn mengabaikan unsur proses setelah pembuangan gas, bisa dikatakan gk mungkin bisa minim emisinya kalo gk irit..CMIIW

  10. juraganneon says:

    artikel yang bagus tapi masih terlalu umum dan tidak menjawab judul artikel, tidak ada penjelasan bagaimana caranya karburator bisa seefektif dan seefisien injeksi sehingga karburator bisa bersaing dengan injeksi dalam hal memenuhi standar Euro

    • boerhunt says:

      Iya masbro, thx utk masukannya, memang utk efisiensi karbu hingga spt injeksi memang blm ada detilnya dlm artikel ini, disamping sy pribadi blm dpt sumber ttg teknologi karbu yg lebih efisien detilnya, juga krn memang yg jd fokus artikel ini adalah pendekatan2 yg bs dilakukan pabrikan dlm mengurang emisi sesuai standar (euro), thx

    • boerhunt says:

      tambahan : jadi tidak memandang perbandingan satu bagian (karbu/injeksi) saja, melainkan secara utuh satu mesin hingga pembuangan

  11. Pingback: Dengan Hadirnya Pulsar200NS, Konsumen Pulsar Lama Tidak Perlu Khawatir, Setuju..! « Boerhunt's Blog

  12. Pingback: Mobil Esemka Tidak Lolos Emisi ?? Ada Nilai Positif Yang Bisa Diambil « Boerhunt's Blog

  13. Pingback: Diganti Injeksi, Kenapa Power Dan Torsi (Torque) Malah Turun ? | Boerhunt's Blog

  14. Pingback: Wah.. Ternyata Semua Produk Roda Dua Bajaj Sudah EURO-3, Proven ! | Boerhunt's Blog

  15. Pingback: Opini : Hal Yang Seharusnya Dilakukan Pemerintah Dalam Hal Standar Emisi Gas Buang | Boerhunt's Blog

  16. Pingback: Dengan Akan Hadirnya Kawasaki Pulsar 200NS Fuel Injection, Akan Jadi Pembuktian Karbu VS Injeksi Pada Mesin Multi Busi | Boerhunt's Blog

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s