Menjual Rute (Kereta Api), Itukah Wujud Usaha Peningkatan Profesionalisme ?

(courtesy of antarafoto.com)

Republika.co.id : PT Kereta Api Indonesia (KAI) bakal menghadapi pesaing baru BUMN ini tak akan menjadi operator tunggal lagi dalam mengelola kereta. Pasalnya, pemerintah sudah  berencana menjual rute kereta api gemuk kepada pihak swasta.

Terus terang penulis terkejut membaca berita tentang akan dijualnya (sebagian) rute potensial dari PT. Kereta Api Indonesia. Terkejut bukan berarti penulis tidak memprediksi hal ini, karena dalam benak penulis bisa jadi Pemerintah akan mengambil langkah ini, Tetapi lebih pada keterkejutan karena akhirnya ditempuh juga jalan ini.

Sekarang mari kita lihat, apakah langkah ini sebuah langkah yang bagus, atau justru merupakan kemunduran. Kalau dilihat dari alasannya, sekilas nampak ada benarnya.

‘’Kalau PT KAI ada pesaing kan nantinya akan menciptakan persaingan pelayanan,’’ ujar Dirjen Perkeretaapian Kementrian Perhubungan RI Tundjung Inderawan usai menghadiri HUT PT Len ke 20, Kamis (6/10).

Apakah memang selalu, bahwa privatisasi (seluruhnya atau sebagian) itu bentuk upaya peningkatan profesionalitas yang otomatis meningkatkan pelayanan ? Bukankah selama ini Kereta Apian bentuknya sudah bukan Jawatan atau Perum lagi, melainkan sudah berbentuk Perseroan Terbatas. Yang artinya sudah memiliki kewenangan dan kapasitas untuk lebih meningkatkan profesionalitasnya dalam pelayanan. Masalahnya mau atau tidak melakukan itu. Dan penulis sebagai pengguna sekaligus pemerhati perkretaapian melihat kurang seriusnya pengelola Kereta Api.

Tetapi jangan buru-buru melihat bahwa ini murni kesalahan pengelola Kereta Api. Seperti yang pernah penulis ulas dalam tulisan sebelumnya (Jangan Bebankan Profit Pada KAI, Kembalikan Fungsinya Sebagai Angkutan Massal . Disitu penulis singgung, ketidakjelasan pemerintah dalam memposisikan Kereta Api seperti apa. Dilihat dari fungsinya, Kereta Api cenderung menjadi Transportasi Massal, yang melayani masyarakat luas. Bukan sebuah Profit Center yang dimiliki oleh Pemerintah. Jangan menjadikan Kereta Api sebagai sapi perah untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Dengan begitu Pengelola Kereta Api bisa lebih fokus untuk melayani masyarakat.

Kembali ke topik, penulis merasa alasan akan menciptakan persaingan pelayanan yang ujung-ujungnya peningkatan pelayanan itu tidak relevan dan tidak banyak manfaat.

Pertama, kalau misalkan jalur gemuk dijual ke swasta, lantas bersaingnya dalam hal apa ? Apakah kepemilikan jalur itu bersifat eksklusif atau pemakaian jalur bersama ? Atau mau bikin rel sendiri ? Kalau pemilikan jalur oleh swasta itu bersifat eksklusif, lantas mau bersaing gimana kalau jalur/rutenya beda ? Contoh saja penulis dari Bandung mau ke Solo, sedang rute Bandung-Solo sudah dimiliki secara ekslusif oleh Swasta A misalnya. Kalau namanya persaingan, seharusnya ada pihak lain yang menawarkan jalur yang sama donk. Kalau ekslusif berarti cuma memindah monopoli pemerintah (dalam hal ini KAI) menjadi monopoli swasta. Ya toh paaakkkk..

Kalau pemakaian jalur bareng, masih masuk akal. Tapi jika pemakaian jalur bersama, itu namanya bukan menjual rute. Dan penulis rasa swasta juga belum tentu mau membeli hak-nya jika tidak bersifat eksklusif. Karena kalau cuma satu rel dipakai bersama, tentu harus ada jadualnya, jangan sampai jam-jam sibuk hanya dimiliki oleh salah satu pihak saja. Tetap saja namanya bukan persaingan sehat.

Kedua, pembikinan jalur baru oleh swasta amat sangat mustahil. Coba saja kita bayangkan berapa modal yang harus dikeluarkan untuk pembebasan tanah saja hanya untuk satu rute saja. Pengalaman pembagian wilayah dan privatisasi PT. Telkom (secara pengelolaan) di awal 2000an sehingga menjadi divisi-divisi area sebagai bukti bahwa kebanyakan investor swasta tidak banyak membangun infrastruktur dibandingkan ketika sepenuhnya oleh pemerintah. Para investor hanya memanfaatkan profit yang di dapat dari pengelolaan yang diputar lagi untuk membangun infrastruktur, bukan membangun baru dari modal investor. Hingga akhirnya pemerintah kembali membeli hak pengelolaan investor yang dikenal dengan istilah bayback. Sungguh ironi. Memang bukan salah dari investor. Namanya juga investor cari untung sebesar-besarnya, kalau bisa tanpa modal (mereka sendiri). Yang salah ya pembuat regulasi yang memungkinkan hal itu terjadi. Privatisasi Telkom yang lalu seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi pemilik kebijakan.

Hal inilah yang penulis khawatirkan dengan pengelolaan Kereta Api oleh swasta. Janji untuk investasi omong kosong belaka. Padahal Kereta Api adalah sarana transportasi massal yang dimanfaatkan oleh semua kalangan, terutama masyarakat kelas bawah. Efek ke masyarakat luas yang menjadikan Kereta Api sebagai tulang punggung transportasi akan sangat terasa jika terjadi apa-apa.

Jadi penulis sih tetap berharap, Kereta Api tetap dikelola oleh pemerintah. Dan jangan bebankan profit, tapi bebankan pada peningkatan kualitas dalam pelayanan. Hal ini bisa diukur kok kalau pemerintah mau serius memberikan layanan kepada masyarakat. Bukan melulu bahwa profesionalitas pelayanan itu diukur dengan uang (profit).

Semoga bermanfaat.

Salam

NB : beritanya sudah agak basi (Jumat lalu) tapi karena kesibukan selama 2 hari kemarin, penulis baru bisa menyelesaikannya hari ini

Jika ada saran, kritik atau masukan, bisa menghubungi penulis di email atau YM : nice_guy2208@yahoo.com

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in lalu lintas, Transportasi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Menjual Rute (Kereta Api), Itukah Wujud Usaha Peningkatan Profesionalisme ?

  1. Maskur says:

    hufffffffffftttttttttttttt……….
    :nohope

  2. Hourex150L says:

    di sumatra belum tersentuh pj Kai…

  3. Pak Bambang Nunggang Byson says:

    ono lalel ning elol lel mencok pagel = ono laler mencok pager nin elor rel
    = ada lalat di utara rel hinggap di pagar

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s