Independensi Media Massa ?

Selamat pagi masbro mbaksist, kali ini saya terpaksa menulis di luar tentang otomotif, especially roda dua, dan bukan sekedar intermezzo, bahasan yang cukup serius (menurut penulis). Tapi bagaimanapun juga blog (termasuk blog otomotif) adalah bagian dari jurnalistik, walau bersifat pribadi, betul ? (semoga gak salah, kalau salah mohon dikoreksi and tenkyu..)

Tadi malam seperti biasa buka-buka blog otomotif (sudah jadi kegiatan rutin bbrp bulan sebelum bikin blog pribadi, tp 2 hari kemaren gk buka). Dan terkejut baca judul tulisan om rudi tentang ayumi disini dan link yang beliau sertakan.
Terus terang, sejak akhir tahun lalu buka-buka blog otomotif semakin sering baca komentar-komentar juga selain artikel blog itu sendiri. Sebelumnya sih kalau baca blog cukup dari mbah gugel terus ikut link-nya, kalau komentarnya banyak, males buka komentar, kalau dikit baru baca, karena kalau banyak komentarnya paling-paling isinya saling lempar gas elpiji seperti komentar di detik atau yahoo news dll. Begitu informasi dapat langsung tutup😀 . Tapi dari bbrp kali gugling ternyata mendapat juga informasi dari komentar. Akhirnya saya sempatin baca juga. Dan dari komentar-komentar itulah penulis kadang membaca nama ayumi disebut berupa sindiran-sindiran. Tadinya sih sempat penasaran opo seh maksute..kok kayaknya heboh banget. Penulis coba baca-baca sebentar tulisan bloger-bloger senior dalam kurun seminggu kebelakang (saat itu), tetap gak jelas. Yo wes lah ..gak penting (nurut penulis).

Dan malam inilah dari tulisan om Rudi (beserta link yang beliau sertakan) ternyata penulis mendapat gambaran (walau tidak gamblang) tentang ayumi. *Tak woco siji-siji beberapa menit, kira-kira apa benang merahnya..walau cuman kutipan.

Bagi saya pribadi, sak karepmu mau bikin iklan atau tidak, mau jadikan blog sebagai sumber penghasilan tambahan, itu urusan masing-masing.

Tidak adanya iklan tidak menjamin tulisan anda independen, karena dependensi/tidak independen bukan hanya urusan materi, tapi juga bisa datang dari ikatan batin berdasarkan pengalaman yang terrekam di otak dan hati anda. Dan adanya iklan juga bukan halangan bagi pribadi independen untuk tetap idealis. Ya toh..

Tetapi dari sudut pandang pembaca (pengalaman penulis lebih sering jadi pembaca😀 ), kekhawatiran ayumi juga wajar walau caranya mungkin salah. Mungkin ayumi mewakili pembaca awam. Pembaca yang masih awam tapi kritis, biasanya berpedoman bahwa independensi itu ditunjukkan dengan tiadanya iklan, karena belum ada pembanding. Bagaimana dia bisa menilai sesuatu itu independen jika tidak ada pembanding, yo wes mikir praktis, yang paling gampang independen itu gak ada iklan, padahal gak ada iklan belum tentu independen, seperti kutipan penulis diatas. (mungkin ada yang tanya, awam tapi kok kritis, awam itu “hanya” belum paham terhadap sesuatu bro, kritis itu sifat bawaan).

Lho..kok jadi mbahas ayumi seh..padahal mau bahas judul diatas, stop ayumi. Tapi sebagai latar belakang ya begitulah..

Dari komentar-komentar tentang ayumi, ada komentar yang menjadikan media-media besar (yang tentu saja beriklan), baik koran maupun televisi sebagai contoh independensi dalam jurnalis walau beriklan. Iyo tah ..

Kalau boleh saya tanyakan, kenapa peristiwa kerusuhan Ambon yang memakan korban jiwa dan materi, sedikit sekali pemberitaannya di media, setidaknya tidak sebanding dengan yang ada di Solo. Independen ? Adakah yang bisa jawab ?? Ini bukan mengenai SARA-nya. Kedua pihak yang terlibat kerusuhan Ambon itu sedarah dan setanah air dengan saya, sebagai anak bangsa saya berhak tahu kondisi kedua pihak anak bangsa saya, untuk kita selesaikan bersama. Itu satu contoh. ( ini juga pertanyaan teman alumni sekolah penulis yang sempat dilontarkan dan membuat penulis terdiam ).

Atau contoh, kenapa ada televisi yang jarang meliput masalah lumpur Lapindo, ketika banyak media lain meliput Lapindo ?😀

Contoh lain jika kita nonton film-film tentang jurnalistik, baik yang dari kisah nyata maupun fiktif atau spionase. Tentu kita bisa melihat, media besarpun tidak bisa independen, walau sebabnya tidak melulu urusan materi. Mungkin si jurnalis bisa independen, tapi media-nya ? Bagaimana jika apa yang mau ditulis jurnalis ditolak oleh media dimana dia bernaung ? (itukan difilm :p ) Bagian heroisme film dimana si jurnalis berjuang hingga karirnya terancam, bisa jadi rekayasa/fiktif agar film menarik. Tetapi benturan kepentingan-kepentingan yang ditampilkan tidak benar-benar ada di dunia nyata ? Think again ..  (kebanyakan nonton film nih)😀

Jadi, IMHO..  memang susah kita mendapatkan independensi yang benar-benar. Semua memiliki kepentingan. Bisa politik, money talks, national security atau conflict of interrest medianya sendiri. Yang paling bijak bagi pembaca adalah mencari informasi dari kedua sisi. mencari second opinion.

Dan IMHO (lagi).. independensi itu berada pada level atau kasta tertinggi dari sebuah pemberitaan/peliputan, karena bukan hanya sekedar benarnya faktanya saja yang diungkap, melainkan perimbangan kedua pihak kontra dan pro, plus dan minusnya masing-masing (makanya sulit :D) , sedangkan level dibawahnya ada black campaign, atau pencemaran nama baik, atau pembohongan publik, atau apalagi yang penulis kurang paham istilah-istilahnya. Namanya juga IMHO..

Yah.. itu sekadar pendapat penulis mengenai independensi media, baik cetak, elektronik, maupun televisi. Yang punya pendapat lain monggo. Dan penulis juga tidak ingin berkomentar tentang polemik ayumi, karena penulis sama sekali baru dalam blog, jauh sesudah ada “kasus ayumi”, ketemu pun belum pernah dengan salah satu blogger senior. Apalagi bertukar pikiran.

Penulis hanya merasa tergelitik ketika ada yang beranggapan atau menjadikan media-media besar sebagai contoh independensi dan penulis merasa perlu juga untuk menyampaikan opini dan uneg-uneg yang ada di otak penulis.

Sekian..

Salam

* salut euy dengan kang taufik, dari kutipan komentar kang taufik terlihat bisa tetap menganggap kritikan tajam ayumi sebagai sebuah kritikan masukan, bukan untuk menjatuhkan, kalau saya pribadi yang kena bisa esmosi dulu kali..😀

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in jurnalistik. Bookmark the permalink.

5 Responses to Independensi Media Massa ?

  1. cafebiker says:

    imho. justru media media besarlah yang tidak ada sama sekali independensinya. Jadi salah besar kalau kita sebagai penulis berkaca pada media besar.

  2. uDien d'kab says:

    setau mang uDien media-media besar mempunyai visi misi tersendiri, pokok pikirannya terhadap berita-berita yang berkembang dapat dipahami dari “tajuk rencana”-nya (cmiiw). Dari “tajuk rencana” tersebut kita bisa memahami sebenarnya media tersebut berhaluan apa. Bagi pembaca harus pandai-pandai dalam memilih dan memilah berita …

    Betul kata kang Burhan, kita jangan mengandalkan satu media, dan jangan langsung percaya begitu sajah ….

  3. gogo says:

    biar gak mumet, intinya ikutilah hati nurani kita sendiri..

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s