Tradisi Mudik, Masih Perlukah ?

Menjelang lebaran seperti sekarang ini, yang sering jadi bahan obrolan adalah Mudik. Setiap ketemu teman kantor di lobby kantor, di lift, di tangga, pasti ditanya “kapan mudik ?” “Mudik kemana ?” “Mudik naik apa ?”.

Dan jika mendengar kata Mudik, otomatis yang terbayang dibenak kita adalah kemacetan sepanjang jalur mudik, terutama di pintu tol. Terbayang pula desak-desakan penumpang yang akan memasuki angkutan yang akan membawanya pulang mudik, di kereta, bis diterminal, dan juga ketika menaiki kapal laut. Dan tak lupa pula di pikiran kita terlintas kekhawatiran berapa pengendara lagi yang bakalan menjadi “tumbal”. :(( (kita semua berharap makin berkurang atau sama sekali tidak ada).

Semua itu hanya demi satu tujuan, MUDIK !

Dan tentunya semua mengakui jika mudik itu capek, butuh biaya banyak, bikin stress, tidak jarang menghadapi ancaman keselamatan selama diperjalanan. Hingga ada yang punya pemikiran “bagaimana jika tradisi mudik itu dihapuskan”. Lepas dari bagaimana cara menghilangkan tradisi mudik ini (kayaknya juga tidak semudah itu), ide ini nampak menarik. Tetapi sebelum sampai pada kesimpulan itu, mari kita coba kaji, apa yang membuat orang-orang “nekat” mudik.

Tujuan mudik yang paling utama pasti semua sudah tahu, yaitu silaturahmi dengan keluarga, kerabat, dan juga pasti teman-teman lama yang dulu satu sekolah, yang sudah menjadi kegiatan yang bernama REUNI. Yang terakhir disebut ini semakin banyak seiring munculnya fenomena facebook. Di samping itu, mudik menjadi sarana untuk sesaat mengumpulkan seluruh keluarga dan kerabat. Karena tanpa mudik, rasanya sulit untuk dilaksanakan.

Dan kalau boleh saya beranggapan, mudik bisa menjadi sarana melepaskan rutinitas sehari-hari dalam dunia pekerjaan di kota yang penuh dengan individualis dan egoisme, menuju suasana yang penuh kehangatan dan keakraban yang selalu kita dapati selama mudik di kampung halaman.
Tentu saja ujungnya adalah tetap menjaga nilai-nilai keluarga (dalam hal keeratan kekeluargaan)
Seperti kita tahu, nilai2 keluarga sangat penting. Bahkan negara sebesar dan sedigdaya Amerika saja ingin mengembalikan nilai-nilai keluarga yang mereka rasakan telah menipis. Adanya Father’s Day, Mother’s Day, Thanksgiving, dan momen-momen lain, mereka ciptakan untuk menyatukan kembali nilai-nilai keluarga. Pada acara itu diharapkan semua anggota keluarga kumpul.

Nah dengan fakta pendek ini tentu kita jadi berfikir, ternyata dibalik keruwetan, kesemerawutan, dan penderitaan selama mudik, ada manfaat besar berupa tradisi yang mampu mengikatkan kembali keeratan kekeluargaan, tradisi yang sudah menjadi bagian hidup masing2 kita.

Saya tidak bisa bayangkan jika kehidupan kita makin individual, kita tdk memiliki (lagi) tradisi yang mampu meleburkan individualisme, bagaimana jadinya masyarakat kita ke depan ? Membangun sebuah tradisi itu tdk mudah bro, apalagi yang mengakar ke tiap individu masyarakat.

Tetapi memang setiap manfaat hampir pasti akan ada harga yang harus dibayar, jer basuki mowo bea.. Harga yang saya maksudkan disini adalah rasa capek, biaya, waktu, tetapi bukan nyawa pemudik, karena satu nyawa saja sudah terlalu berharga untuk dikorbankan. Anggap saja mudik itu sebagai sarana outbound untuk melepaskan rutinitas kantor hehe..

Yang sebenarnya perlu kita sorot adalah peran pemerintah. Betapa tidak, dari tahun ke tahun penanganan mudik terkesan seadanya. Saya pribadi melihat program pemerintah sama sekali tidak memiliki visi yang jelas. Seolah-olah penanganan mudik ibarat kebut semalam. Baru kelihatan setelah bulan-bulan menjelang lebaran. Kalo dilihat posisi sekarang, pemerintah tidak tahu mudik tahun depan akan mau bagaimana.

Kalau pemerintah memiliki visi yang jelas, seharusnya sudah ada visi, mudik tahun depan akan begini, 3 tahun lagi akan begini, 5-10 tahun lagi akan begini. Perusahaan kecil saja – yang bagus – punya visi kok akan seperti apa 5-10 tahun kedepan. Alasan pemerintah meningkatnya jumlah kendaraan sebagai kendala menurut saya alasan yang konyol. Kan pemerintah yang megang datanya, pemerintah yang memberikan ijin kendaraan, tentunya bisa melakukan prediksi-prediksi dan antisipasinya. Jangan jadikan alasan..

Yah..itulah pandangan saya tentang fenomena mudik.. lebih kurangnya masbro/mbasist punya penilaian masing-masing..
Semoga bermanfaat..

Salam

*Tulisan ini sebenarnya sudah beberapa hari lalu saya tulis, tetapi karena terkendala koneksi, baru bisa saya selesaikan dan posting, dan sekarang saya sudah menjalani “nikmatnya” mudik🙂 .

About boerhunt

Hanya sekedar ingin menuangkan corat coret, punya hobby olahraga, otomotif, IT world, nature, tapi blog ini lebih byk penulis dedikasikan untuk otomotif terutama roda dua
This entry was posted in lalu lintas, mobil, Otomotif, Roda Dua and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Tradisi Mudik, Masih Perlukah ?

  1. cafebiker says:

    yang jelas macet🙂

  2. Tidak bisa bro untuk menghapus tradisi mudik.
    Mudik memang tidak harus hari raya, tp karna hari raya itulah orang2 pd pengen mudik..
    Yg ada, tingkat pemudik di hari raya malah tambah semakin banyak tiap tahunnya..
    hehehee
    Pesen saya, selalu ber-doa dan hati2 dijalan😉

  3. uDien d'kab says:

    yups, menarik sekali bahasannya, tradisi yang seperti sekarang memang mempunyai nilai yang tinggi yang tidak dimiliki bahkan oleh negara sedigdaya Amerika, tinggal pemerintah yang harus memfasilitasi demi terpeliharanya tradisi ini …. Nice share …

  4. Pingback: Kecewa Berat dengan Pernyataan Menhub Seputar Meningkatnya Kecelakaan Mudik « Boerhunt's Blog

  5. Pingback: Pembatasan Jarak Tempuh Untuk Motor ?? Hmmm… « Boerhunt's Blog

  6. Pingback: Jika Pembatasan Jarak Tempuh Motor (Saat Mudik) Diberlakukan, Siapa Sebenarnya Yang Diuntungkan ? « Boerhunt's Blog

Tulisa balasan | Leave a reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s